Selasa, 5 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Disambut Sultan dan Sajian Kopi Dabe di Kadaton Kie Tidore

Apalagi nama Tidore telah tertabal lekat dalam ingatan saya sejak belajar sejarah tanah air di bangku sekolah

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
ELLY WANI, Aparatur Sipil Negara pada Dinas Syariat Islam Aceh, melaporkan dari Tidore, Maluku Utara 

Keberuntungan sepertinya sedang berpihak kepada kami.

Dari ruangan dalam, sultan ke luar dan menyapa hangat tetamu di kedatonnya.

Baca juga: 20 Perwakilan Aceh Bertarung dalam STQH Nasional di Maluku Utara, Ini Peserta dan Cabang Diikuti

Rombongan dari Papua mengajak sultan foto bersama.

Sultan H Husain Alting Syah menyambut antusias.

Sultan Tidore ke-37 yang juga Anggota DPD RI itu malah meminta abdi kedaton untuk merekam video dari ponsel beliau.

Saya ikut memvideokan momen berkesan itu.

Terbersit niat kami untuk turut berfoto bersama sultan.

Namun, muncul keraguan.

Bersediakah sultan? Kami hanya bertiga, bukan sejumlah rombongan besar.

Jikapun kami membawa nama Aceh, hanya berdua saja yang orang Aceh.

Namun, abdi kedaton yang sedari tadi mendampingi kami berkeliling meyakinkan bahwa sultan menerima siapa saja, tanpa membeda-bedakan.

Baca juga: Seluruh Peserta Aceh Lolos Verifikasi Faktual STQH Nasional XXVI di Maluku Utara

Seperti mimpi rasanya berada satu frame foto bersama seorang sultan.

Sultan sangat antusias begitu mendengar kami dari Aceh.

Kami hanya meminta foto, tapi beliau memberi bonus dengan sebuah video.

“Asalamualaikum.

Saya Haji Husain Syah, Sultan Tidore, saya sedang bersama dengan saudara-saudara saya dari Aceh.

Oleh karena itu, video ini saya buat untuk dikirim kepada saudara- saudara saya Pak Sudirman (Haji Uma -red), kemudian saudara-saudara saya yang lain yang ada di Aceh, teman-teman DPD dari Provinsi Aceh, agar bisa melihat bagaimana jalinan persaudaraan saya dengan saudarasaudara dari Aceh.

Kami orang Tidore selalu terbuka menerima siapa saja termasuk saudara-saudara yang datang dari Aceh, sebagaimana orang-orang Aceh yang selalu terbuka terhadap saudara- saudaranya yang datang dari luar.

Insyaallah, mudah-mudahan pertemuan ini membawa berkah dan orang Aceh selalu sehat wal afiat.

Sultan juga menyempatkan diri beramah tamah dengan para tamunya.

Beliau berbicara dengan bahasa yang tertata.

Gerak-geriknya memancarkan kewibawaan seorang sultan.

Baca juga: Kalahkan Maluku Utara, Peusangan Raya Bireuen Berpeluang Lolos 16 Besar Piala Soeratin U-17

Beliau menjelaskan secara singkat sejarah Tidore yang panjang.

Tuturnya menyiratkan kebanggaan akan kebesaran Tidore.

Sultan juga menceritakan nama-nama pejuang negeri Tidore, seperti Sultan Nuku, Sultan Zainal Abidin Syah, dan Tuan Guru Imam Abdullah Abdus Salam yang dibuang Belanda ke Afrika Selatan.

Tur singkat di Kadaton Kie ditutup dengan sajian secangkir kopi dabe.

Kopi dabe merupakan minuman khas Tidore yang terbuat dari kopi dicampur rempahrempah seperti jahe, kayu manis, cengkih dan pala.

Dabe dalam bahasa Tidore berarti baku tambah.

Jadi, kopi dabe adalah kopi yang ditambah rempah-rempah.

Gerimis kembali turun ketika kami meninggalkan Kadaton Kie.

Kunjungan kami ke Tidore hanya sampai kedaton.

Faktor cuaca dan waktu di ambang senja membuat kami tak bisa menjelajah banyak tempat di Tidore.

Padahal, saya sangat ingin ke Benteng Torre dan berkunjung ke masjid kesultanan.

Pupus harapan menjejakkan kaki di pulau ‘uang seribu’ Maitara atau menikmati eksotisnya Gurabunga.

Namun, saya tidak terlalu kecewa.

Tidore dan secangkir kopi dabe merupakan penutup yang sempurna perjalanan singkat saya di jazirah Moloku Kie Raha, Maluku Utara.

Baca juga: DPRA Terima Kunjungan BKD DPRD Maluku Utara, Tukar Pendapat soal Kode Etik BKD

Baca juga: Brimob Tembak Warga dan Bekingi Tambang Emas Ilegal, Kapolda Maluku Geram: Siap Pidanakan dan Pecat

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved