Jurnalisme Warga
Disambut Sultan dan Sajian Kopi Dabe di Kadaton Kie Tidore
Apalagi nama Tidore telah tertabal lekat dalam ingatan saya sejak belajar sejarah tanah air di bangku sekolah
OLEH ELLY WANI, Aparatur Sipil Negara pada Dinas Syariat Islam Aceh, melaporkan dari Tidore, Maluku Utara
BERKUNJUNG ke Maluku Utara tidak lengkap rasanya jika tidak menginjakkan kaki di Tidore.
Apalagi nama Tidore telah tertabal lekat dalam ingatan saya sejak belajar sejarah tanah air di bangku sekolah.
Karena alasan romantisme sejarah masa lalu itu, kami nekat menyeberang naik speedboat dari Pelabuhan Bastiong di Ternate menuju Pelabuhan Rum di Tidore.
Padahal, cuaca dan laut sedang tidak bersahabat.
Mendung, gerimis, dan laut yang bergolak menemani tujuh menit pelayaran kami yang menegangkan, terombang-ambing dalam speedboat.
Dari Pelabuhan Rum kami naik angkot menuju kedaton, menempuh perjalanan hampir satu jam.
Tidore merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di nusantara.
Nama Tidore berasal dari gabungan kata ‘to ado re’, yang artinya aku telah sampai.
Pada masa kejayaannya, Kesultanan Tidore menguasai sebagian wilayah Halmahera Selatan, Pulau Buru, hingga Papua Barat.
Baca juga: Viral Video Suku Togutil Memanah Warga yang Menyeberangi Sungai, Ini Penjelasan Polda Maluku Utara
Pusat Kesultanan Tidore berada di Pulau Tidore.
Keraton kesultanan dibangun di daerah Soasio, di kaki Gunung Kie Matubu.
Kedaton yang dinamakan Kadaton Kie itu dibangun pada masa pemerintahan Sultan Tidore yang ke-28 pada awal abad 19.
Pembangunannya memerlukan waktu 50 tahun.
Sayangnya, kedaton sempat hancur akibat perang saudara di awal abad 20.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/elly-wani-aparatur-sipil-negara-pada-dinas-syariat-islam-aceh.jpg)