Rabu, 6 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Disambut Sultan dan Sajian Kopi Dabe di Kadaton Kie Tidore

Apalagi nama Tidore telah tertabal lekat dalam ingatan saya sejak belajar sejarah tanah air di bangku sekolah

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
ELLY WANI, Aparatur Sipil Negara pada Dinas Syariat Islam Aceh, melaporkan dari Tidore, Maluku Utara 

OLEH ELLY WANI, Aparatur Sipil Negara pada Dinas Syariat Islam Aceh, melaporkan dari Tidore, Maluku Utara

BERKUNJUNG ke Maluku Utara tidak lengkap rasanya jika tidak menginjakkan kaki di Tidore.

Apalagi nama Tidore telah tertabal lekat dalam ingatan saya sejak belajar sejarah tanah air di bangku sekolah.

Karena alasan romantisme sejarah masa lalu itu, kami nekat menyeberang naik speedboat dari Pelabuhan Bastiong di Ternate menuju Pelabuhan Rum di Tidore.

Padahal, cuaca dan laut sedang tidak bersahabat.

Mendung, gerimis, dan laut yang bergolak menemani tujuh menit pelayaran kami yang menegangkan, terombang-ambing dalam speedboat.

Dari Pelabuhan Rum kami naik angkot menuju kedaton, menempuh perjalanan hampir satu jam.

Tidore merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di nusantara.

Nama Tidore berasal dari gabungan kata ‘to ado re’, yang artinya aku telah sampai.

Pada masa kejayaannya, Kesultanan Tidore menguasai sebagian wilayah Halmahera Selatan, Pulau Buru, hingga Papua Barat.

Baca juga: Viral Video Suku Togutil Memanah Warga yang Menyeberangi Sungai, Ini Penjelasan Polda Maluku Utara

Pusat Kesultanan Tidore berada di Pulau Tidore.

Keraton kesultanan dibangun di daerah Soasio, di kaki Gunung Kie Matubu.

Kedaton yang dinamakan Kadaton Kie itu dibangun pada masa pemerintahan Sultan Tidore yang ke-28 pada awal abad 19.

Pembangunannya memerlukan waktu 50 tahun.

Sayangnya, kedaton sempat hancur akibat perang saudara di awal abad 20.

Tangkapan layar video penampakan suku Togutil, Halmahera, Maluku Utara
Tangkapan layar video penampakan suku Togutil, Halmahera, Maluku Utara (Screenshot)

Sultan Tidore ke-36, Sultan Djafar Sjah, membangun kembali kedaton menyerupai bentuk aslinya di atas tanah seluas 1,7 hektare pada tahun 1997.

Bangunan dua lantai itu memiliki pekarangan yang luas.

Atapnya berbentuk kerucut warna cokelat.

Dindingnya didominasi warna putih, dengan kombinasi warna hijau dan kuning pada jendela dan pintu.

Baca juga: Peneliti Australia Ungkap Kehidupan Pelaut Kuno di Maluku Utara

Baca juga: Pagi Ini Maluku Utara dan Sumbawa Diguncang Gempa

Bendera Merah Putih dan bendera kuning Kesultanan Tidore yang bergambar dua pedang bersilang, berkibar berdampingan di depan kedaton.

Ada dua tangga di kanan dan kiri untuk naik menuju teras di lantai atas.

Konon bentuk kedaton ini menyerupai kalajengking, simbol yang tergambar dalam panji kesultanan.

Di serambi teras, beberapa orang berpakaian adat duduk di atas kursi, ramah menjawab salam kami.

Seorang abdi kedaton mempersilakan kami masuk.

Dari teras lantai atas itu terhampar pemandangan indah lautan dan Pulau Halmahera di kejauhan.

Dua bendera yang bersanding di halaman menambah syahdu pemandangan.

Melangkah ke dalam kedaton, kami disambut ruangan luas yang didominasi warna putih.

Beberapa perangkat sofa berjejer di sepanjang sisi dinding ruangan.

Baca juga: Kronologi Wakil Gubernur Maluku Utara Al Yasin Ali Mengamuk, Tunjuk dan Teriaki Gubernur Abdul Gani

Kursi yang berhadapan langsung dengan singgasana, merupakan tempat sultan menerima tamu.

Singgasana sultan berlatar hijau dengan lambang kesultanan dan simbol-simbol lainnya.

Tirai putih melingkupi kursi singgasana yang beralaskan beludu merah.

Panji-panji kesultanan mengapit di kiri dan kanan singgasana.

Di sisi ujung ruangan terdapat seperangkat meja kerja yang memajang beberapa plakat simbol kesultanan.

Di dinding terdapat pigura foto sultan yang berdaulat sekarang, Sultan Kesultanan Tidore ke-37.

Gambar beberapa sultan Tidore juga dipajang di sisi lain dinding.

Di sana juga terdapat peta wilayah Kesultanan Tidore pada era keemasannya, dan foto-foto Tidore pada masa lalu.

Baca juga: Kafilah Aceh Mulai Tampil di STQHN di Maluku Utara

Di sisi kanan singgasana, tertutup tirai putih, terdapat ambang pintu menuju bagian dalam kedaton, tempat kediaman sultan.

Menurut abdi kedaton, di bagian ruangan itu merupakan tempat sultan menjamu tamu-tamunya.

Sayap kanan ruangan menampilkan lemari pajangan dan deretan foto-foto.

Di dalam lemari terdapat baju kerajaan yang dipakai para sultan terdahulu.

Yang paling menarik perhatian saya adalah deretan pigura foto yang memperlihatkan kebesaran Tidore berabad lampau.

Ada peta nusantara dengan wilayah Tidore di dalamnya, gambar Pulau Tidore dengan siluet pulau-pulau kecil dan perahu, suratsurat, serta fragmen.

Abdi kedaton memberikan beberapa penjelasan terkait surat-surat, fragmen, dan foto-foto yang dipajang.

Ada juga peta pelayaran Juan Sebastian De Elcano dan foto monumennya yang dibuat untuk memperingati pendaratan bangsa Spanyol pertama kali di Tidore pada tanggal 8 November 1521.

Elcano merupakan pemimpin kapal Victoria dan Trinidad asal Spanyol yang berhasil menyelesaikan ekspedisi menuju kepulauan rempah-rempah.

Keberuntungan sepertinya sedang berpihak kepada kami.

Dari ruangan dalam, sultan ke luar dan menyapa hangat tetamu di kedatonnya.

Baca juga: 20 Perwakilan Aceh Bertarung dalam STQH Nasional di Maluku Utara, Ini Peserta dan Cabang Diikuti

Rombongan dari Papua mengajak sultan foto bersama.

Sultan H Husain Alting Syah menyambut antusias.

Sultan Tidore ke-37 yang juga Anggota DPD RI itu malah meminta abdi kedaton untuk merekam video dari ponsel beliau.

Saya ikut memvideokan momen berkesan itu.

Terbersit niat kami untuk turut berfoto bersama sultan.

Namun, muncul keraguan.

Bersediakah sultan? Kami hanya bertiga, bukan sejumlah rombongan besar.

Jikapun kami membawa nama Aceh, hanya berdua saja yang orang Aceh.

Namun, abdi kedaton yang sedari tadi mendampingi kami berkeliling meyakinkan bahwa sultan menerima siapa saja, tanpa membeda-bedakan.

Baca juga: Seluruh Peserta Aceh Lolos Verifikasi Faktual STQH Nasional XXVI di Maluku Utara

Seperti mimpi rasanya berada satu frame foto bersama seorang sultan.

Sultan sangat antusias begitu mendengar kami dari Aceh.

Kami hanya meminta foto, tapi beliau memberi bonus dengan sebuah video.

“Asalamualaikum.

Saya Haji Husain Syah, Sultan Tidore, saya sedang bersama dengan saudara-saudara saya dari Aceh.

Oleh karena itu, video ini saya buat untuk dikirim kepada saudara- saudara saya Pak Sudirman (Haji Uma -red), kemudian saudara-saudara saya yang lain yang ada di Aceh, teman-teman DPD dari Provinsi Aceh, agar bisa melihat bagaimana jalinan persaudaraan saya dengan saudarasaudara dari Aceh.

Kami orang Tidore selalu terbuka menerima siapa saja termasuk saudara-saudara yang datang dari Aceh, sebagaimana orang-orang Aceh yang selalu terbuka terhadap saudara- saudaranya yang datang dari luar.

Insyaallah, mudah-mudahan pertemuan ini membawa berkah dan orang Aceh selalu sehat wal afiat.

Sultan juga menyempatkan diri beramah tamah dengan para tamunya.

Beliau berbicara dengan bahasa yang tertata.

Gerak-geriknya memancarkan kewibawaan seorang sultan.

Baca juga: Kalahkan Maluku Utara, Peusangan Raya Bireuen Berpeluang Lolos 16 Besar Piala Soeratin U-17

Beliau menjelaskan secara singkat sejarah Tidore yang panjang.

Tuturnya menyiratkan kebanggaan akan kebesaran Tidore.

Sultan juga menceritakan nama-nama pejuang negeri Tidore, seperti Sultan Nuku, Sultan Zainal Abidin Syah, dan Tuan Guru Imam Abdullah Abdus Salam yang dibuang Belanda ke Afrika Selatan.

Tur singkat di Kadaton Kie ditutup dengan sajian secangkir kopi dabe.

Kopi dabe merupakan minuman khas Tidore yang terbuat dari kopi dicampur rempahrempah seperti jahe, kayu manis, cengkih dan pala.

Dabe dalam bahasa Tidore berarti baku tambah.

Jadi, kopi dabe adalah kopi yang ditambah rempah-rempah.

Gerimis kembali turun ketika kami meninggalkan Kadaton Kie.

Kunjungan kami ke Tidore hanya sampai kedaton.

Faktor cuaca dan waktu di ambang senja membuat kami tak bisa menjelajah banyak tempat di Tidore.

Padahal, saya sangat ingin ke Benteng Torre dan berkunjung ke masjid kesultanan.

Pupus harapan menjejakkan kaki di pulau ‘uang seribu’ Maitara atau menikmati eksotisnya Gurabunga.

Namun, saya tidak terlalu kecewa.

Tidore dan secangkir kopi dabe merupakan penutup yang sempurna perjalanan singkat saya di jazirah Moloku Kie Raha, Maluku Utara.

Baca juga: DPRA Terima Kunjungan BKD DPRD Maluku Utara, Tukar Pendapat soal Kode Etik BKD

Baca juga: Brimob Tembak Warga dan Bekingi Tambang Emas Ilegal, Kapolda Maluku Geram: Siap Pidanakan dan Pecat

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved