Opini
Paradigma Baru Pembelajaran PAI Berbasis Re-STEAM
Bukan yang terkuat yang menang, bukan yang terbesar yang bertahan, tapi yang mampu beradaptasilah yang akan keluar sebagai pemenang
Konsep pendidikan dalam Islam merupakan hasil integrasi dari kekuatan akal (rasional), yang memiliki konsep empiris, dan menjadikan Alquran dan Hadis sebagai landasan utama.
Hanya saja, dalam pandangan penulis, kurikulum saat ini sepertinya belum mampu menawarkan formula baru, baik dalam tataran konsep, pendekatan, maupun strategi pengajaran.
Padahal, kurikulum PAI sejatinya mampu melakukan penyesuaian materi ajar dengan perkembangan zaman.
Secara lebih spesifik kurikulum PAI di jenjang sekolah dasar perlu melakukan inovasi dan pengembangan untuk memperluas lingkup kajian, penjabaran setiap materi ke ranah teknologi dan kebutuhan industri 4.0.
Baca juga: Presentasi Buku dan Lembar Kerja Lingkungan Jajaran Dinas Pendidikan Aceh
Baca juga: Dinas Pendidikan Aceh Jaya Tunggak 9 Bulan Tunjangan Guru, Tak Ada Kepastian Pembayaran
Kurikulum ini merupakan bentuk penyempurnaan dari materi-materi yang telah ada untuk memenuhi kebutuhan peserta didik.
Pengembangan kurikulum baru ini diyakini mampu mengembangkan potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik, dan melibatkan mereka dengan permasalahan yang ada di sekeliling mereka.
Peserta didik dirangsang untuk memahami masalah yang ada dan kemudian memikirkan solusi berbasiskan pengetahuan.
Karenanya, pengajaran PAI di sekolah sejatinya mampu membantu siswa atau peserta didik untuk memahami realitas yang ada, serta mendorong mereka untuk mengaplikasikan pengetahuan dan prinsip keagamaan di dalam kehidupan nyata.
Hal ini hanya mungkin dilakukan jika kita mengadopsi pendekatan Re-STEAM, sebuah paradigma baru pembelajaran era society 5.0, ke dalam perangkat pembelajaran.
STEM dan STEAM
Kita mengenal beberapa pendekatan dalam pembelajaran, dan ini terus disempurnakan dari waktu ke waktu.
Di antaranya yang terkenal adalah pendekatan STEM dan STEAM, yang sudah diadopsi sejumlah lembaga pendidikan di Amerika dan di beberapa negara maju lainnya.
Baca juga: Khabar Gembira, Dinas Pendidikan Aceh Lanjutkan Kontrak Ribuan Guru dan Tenaga Kependidikan Non-PNS
STEM merupakan akronim dari science, technology, engineering, mathematics, dan mulai diperkenalkan pada tahun 2001 oleh National Science Foundation (NSF) Amerika Serikat.
Sebelumnya, NSF menggunakan akronim SMET untuk kajian atau kurikulum yang mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan dari empat bidang tersebut.
Sosok yang berjasa menyusun ulang kata-kata science, technology, engineering, mathematics menjadi akronim STEM adalah Judith Ramaley, ahli biologi di Amerika.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/erfiati-ibu-tiga-anak-selesaikan-s3-uin-ar-raniry-03.jpg)