Jurnalisme Warga
Mangrove Kuala Gigieng, Surganya Bangau di Aceh Besar
JALAN-JALAN sore atau JJS istilahnya anak muda, tentulah sangat menyenangkan sembari menikmati pemandangan di sekitar kita
Hal ini mereka lakukan karena tabiat mereka adalah mencari makanan di sawahsawah warga.
Sejauh yang saya amati, burung kuntul ini mulai meninggalkan sarangnya di Kuala Gigieng sejak pukul 07.00 WIB dan akan kembali lagi di sore hari bakda asar.
Di saat sore hari inilah kita bisa menyaksikan beragam cara si burung kuntul ini dalam melakukan manuver untuk melakukan pendaratannya di “surga mangrove” Kuala Gigieng.
Ada yang langsung hinggap di pepohonan bakau, ada juga yang mendarat di pinggir sungai dulu, untuk sekadar mencuci kakinya yang panjang selepas sepanjang hari bermain di sawah.
Mereka datang dari berbagai penjuru mata angin, ada yang datang dari timur, ada yang mendarat dari arah selatan, dan ada yang mendarat dari arah barat.
Bahkan, ada yang berputar- putar dulu seolah-olah ingin mengajak kawan-kawannya menari-nari di udara seperti kapas-kapas putih yang betebangan tertiup sepoinya angin Kuala Gigieng.
Terlepas dari meningkatnya perkembangbiakan kuk atau burung kuntul ini secara alami, saya melihat bijaknya masyarakat di sekitar ekosistem burung kuntul seperti tidak merusak sarang, tidak menggangu habitat dengan menembak menggunakan senapan angin, dan lainnya adalah nilai plus yang harus kita berikan apresiasi.
Baca juga: Hutan Mangrove Kuala Langsa jadi Penyeimbang di Era Deteriorasi dan Pemanasan Global
Ekosistem cicem kuk di Kuala Gigieng seharusnya menjadi salah satu lokasi tujuan wisata yang bisa mendongkrak perekonomian masyarakat sekitar hutan mangrove tersebut.
Budi daya mangrove harus menjadi prioritas Pemeritah Kabupaten Aceh Besar guna terus mengupayakan pelestarian para cicem kuk ini dari kepunahan.
Satu hal lagi, dalam beberapa hari ini saya mengamati bahwa ada beberapa cicem kuk ini yang mengalami kondisi lemah, ada sebagian yang hanya berdiam diri di pinggir sungai tanpa bertengger di atas pohon mangrove.
Sebagian lagi ada yang jatuh sendiri serta selanjutnya terlindas kendaraan yang lewat.
Kondisi ini, menurut hasil penelitian Ruskhanidar, sebenarnya bisa diakibatkan oleh pengaruh makanan para burung bangau yang telah tercemari pestisida.
Penggunaan pestisida di persawahan dan tambak sebagai tempat mencari makan beberapa jenis burung air, diperkirakan memberi pengaruh negatif terhadap Kesehatan mereka.
Meskipun data yang ada tergolong kurang, terkait banyaknya burung air yang mati setelah makan racun, tetapi penelitian di berbagai tempat menunjukkan bahwa pestisida dapat meracuni burung air tersebut.
(Ruskhanidar, 2007) Indikasi ini sangat mungkin terjadi, mengingat di kawasan persawahan Kabupaten Aceh Besar sedang memasuki musim tanam padi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/oleh-amrullah-bustamam-llm-dosen-fakultas-syariah.jpg)