Jurnalisme Warga
Mangrove Kuala Gigieng, Surganya Bangau di Aceh Besar
JALAN-JALAN sore atau JJS istilahnya anak muda, tentulah sangat menyenangkan sembari menikmati pemandangan di sekitar kita
Makanan utama Bubulcus ibis terdiri atas serangga, katak, tikus, orongorong, dan udang.
(http:// kamicintapeternakan.blogspot.com/) Keberadaan bangau (kuk) atau istilah lainnya burung kuntul putih ini sangat menarik perhatian siapa pun yang lewat.
Apalagi bagi orang yang hendak membeli ikan di sekitar kawasan pasar ikan (TPI) Lambada Lhok atau pasar ikan dekat Jembatan Gampong Labui, akan terkesima dengan pemandangan eksotis ratusan burung kuntul dan kuatnya bau kotorannya nan menusuk hidung.
Sensasi fantastis Anda saat jalan-jalan sore akan terasa luar biasa jika bertandang ke sudut Kecamatan Baitussalam ini.
Nah, sebenarnya perkembangan ekosistem kuk atau burung kuntul ini sudah lama berlangsung di kawasan hutan mangrove pesisir Kecamatan Baitussalam.
Seingat saya, sebelum tsunami 2004 kawanan kuntul ini sempat menempati satu lokasi tambak yang dipenuhi pohon mangrove milik salah satu warga Gampong Lamnga.
Dalam artikel hasil penelitian Ruskhanidar di hutan mangrove Lam Nga, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, tahun 2006 menyebutkan bahwa sebelum tsunami, masyarakat Gampong Lam Nga sering memanen telur burung pada waktu musim burung bertelur.
Jumlah telur yang diambil dari sarang terkadang mencapai satu karung ukuran besar.
(Ruskhanidar, 2007) Namun, pascatsunami lokasi tersebut tidak diminati lagi oleh kawanan burung kuntul tersebut.
Mungkin karena masa pascatsunami banyak ekosistem mangrove di Lam Nga juga dimanfaatkan untuk lahan pembibitan mangrove sebagai bagian rehabilitasi pantai yang rusak akibat tsunami.
Baca juga: Ratusan Hektare Hutan Mangrove di Aceh Tamiang Gundul Akibat Dirambah
Baca juga: Lestarikan Mangrove, Dua Kampung di Aceh Tamiang Sepakat Tegakkan Reusam
Kemudian, menurut Ruskhanidar, suara bising yang ditimbulkan oleh alat berat yang digunakan untuk merehabilitasi kembali tambak yang rusak juga berdampak negatif bagi kehidupan burung dan membuat mereka tidak betah di lokasi sebelumnya.
Lalu, kawanan burung tersebut pindah (ruana) ke tempat yang lebih aman, karena tak mampu beradaptasi dengan kebisingan.
Saat ini, lokasi hutan mangrove yang dijadikan rumah bersama para cicem kuk ini, hanya 200 meter dari lokasi sebelumnya, yakni hanya berpindah ke sebelah barat Gampong Lam Nga, tepatnya di hutan Mangrove Kuala Gigieng.
Keberadaan kawanan burung kuntul ini sekali lagi menjadi daya tarik bagi masyarakat yang bersantai di sore hari.
Mungkin Anda bertanya, mengapa hanya pada sore hari? Jawabannya, karena di pagi hari semua cicem kuk ini terbang meninggalkan sarangnya menuju sawah, rawa, atau kebun-kebun masyarakat di kawasan Aceh Besar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/oleh-amrullah-bustamam-llm-dosen-fakultas-syariah.jpg)