Opini

Israk Walmikraj

Jarak tempuh dari masjidil haram (Makkah) ke masjidil Aqsha pada era tersebut adalah satu bulan pergi satu bulan kembali, yang dalam ukuran kilometer

Editor: bakri
For Serambinews.com
Abdul. Gani Isa, Staf Pengajar Pasca UIN Ar-Raniry dan Anggota MPU Aceh 

Karenanya Rasulullah Saw dengan bantuan Allah dapat melakukan perjalanan tersebut lebih kurang selama 8-9 jam, dengan menggunakan transportasi super canggih dinamakan dengan ‘barq’, yang artinya ‘kilat’.

Ini menunjukkan bahwa kecepatan kenderaan tersebut adalah secepat kilat.

Berangkat dari masjidil haram ba’da shalat ‘isya dan kembali qabla shalat subuh.

Subhanallah! Makanya menjadi kebiasaan umat Islam yang beriman, bila melihat sesuatu yang sangat luar biasa dan mengagumkan bagi dirinya senantiasa mengucapkan ‘subhanallah’ (Maha Suci Allah).

Pandangan menakjubkan

Bagaimana kedekatan Nabi ketika bermi’raj dengan Allah Swt, dan saat berdialog menerima perintah-Nya, dilukiskan Alquran dalam surat al-Ma’arij dari ayat 8-18: “Sedang dia (Muhammad) berada di ufuq yang tinggi, kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekatnya lagi, maka jadilah dia dekat, (pada Muhammad sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi, lalu Dia (Allah) menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan, Maka sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu dalam rupanya yang asli pada waktu yang lain, yaitu di Sidratul Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad) melihat Jibril ketika di Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatan Muhammad tidak pernah berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampaui batas, sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda kekuasaan Tuhan-Nya yang paling besar”.

Hadiah shalat

Sudah sering dikisahkan bahwa peristiwa israk wal mikraj terjadi pada tahun ke-12 dari kerasulan Muhammad, bersamaan dengan tahun 622 M.

Baca juga: Ikatan Dzuriyyah Rasulullah Aceh Peringati Milad ke-2 dengan Perayaan Israk Mikraj 1443 H

Tahun itu dikenal pula dalam sejarah Islam dengan “amul huzni” artinya ‘tahun kesedihan’.

Karena pada tahun itu berpulangnya ke ramatullah secara berturut-turut, pertama, wafatnya isteri beliau yang sangat dicintai yaitu Khadijah al-Kubra, yang selama hayatnya telah memberikan segalanya demi tegaknya risalah Muhammad; kedua, meninggalnya paman beliau yaitu Abu Talib, yang selama hidupnya menjadi soko guru perjuangannya menebarkan agama Allah.

Dua sebab ini pula menjadikan beliau diundang secara langsung oleh Allah, dan sekaligus menerima perintah shalat lima waktu.

Seperti sudah dijelaskan bahwa ketika Nabi berada di Sidratul Muntaha (tempat yang terakhir), lalu ia memberikan penghormatan/salam kepada-Nya; “attahiyyatul mubarakatus salawatut tayyibatu lillah” Lalu Allah menjawab salamnya dengan ucapan; assalamu’alaika ayyuhannabiyu warahmatullahi wabarakatuh”.

Selanjutnya Muhammad menjawab; assalamu ‘alaina wa’ala ‘ibadihillahis salihin”.

Lalu Malaikat mengucapkan syahadatain dan salawat atas Nabi; “asyhadualla ilahaillallah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah, allahumma shalli ‘ala Muhammad, lalu Nabi menyahutinya dengan ucapan “wa’ala ali Muhammad.

” Rasulullah Saw menjelaskan, Allah swt mewajibkan kepada umatku pada malam israk lima puluh waktu shalat, sebelum menerimanya saya bolak balik meminta keringanan sehingga menjadi lima waktu sehari semaam”.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved