Opini
Israk Walmikraj
Jarak tempuh dari masjidil haram (Makkah) ke masjidil Aqsha pada era tersebut adalah satu bulan pergi satu bulan kembali, yang dalam ukuran kilometer
Bolak-baliknya Nabi memohon keringanan, dalam riwayat disebutkan atas saran Nabi Musa as, “umatmu kecil-kecil, mungkin tidak akan mampu melaksanakannya, sedangkan umatku yang besar tegap, merasa berat melakukannya, Musa as menyarankan kepada Muhammad; “ irji’ ila rabbika fas alhu at-takhfif, fainna ummataka la tatbiq “ (kembalilah kepada Tuhan-Mu, mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan mampu melaksanakannya).
Rasulullah Saw bolak balik meminta rukhsah dari Allah sampai sembilan kali, sehingga dari lima puluh waktu menjadi lima waktu.
Namun umat Islam harus bebesar hati, bahwa lima waktu itu sama nilainya dengan lima puluh waktu.
Shalat mendaki langit Shalat secara harfiyah bermakna doa yaitu irtifa’ul a’la ilallah likay nasjudu lahu wa nasykuruhu wa natlubu ma’unatahu (mengangkat/meninggikan pikiran dalam rangka sujud, bersyukur dan memohon pertolongan-Nya).
Baca juga: Shalat Membentuk Kesalehan Sosial , Intisari Ceramah Israk Mikraj di Masjid Raya
Secara istilah diartikan sebuah ibadah dimulai dengan takbiratul ihram, diikuti dengan beberapa perkataan, perbuatan dan diakhiri dengan salam.
Takbiratul ihram adalah “takbir haram”, artinya ketika takbir itu dilakukan, haramlah melakukan hal/kegiatan di luar kaifiyat shalat.
Bila itu dilakukan dengan sengaja tanpa ‘uzur syar’i, ibadahnya tertolak/batal.
Atau paling kurang bisa makruh.
Begitu tingginya nilai shalat, sehingga Rasulullah Saw mengatakan “as-shalatu mi’raju lil mu’minin”(Shalat itu merupakan mi’rajnya bagi setiap mu’min).
Khusyuk dalam shalat adalah salah satu faktor memperoleh “aflah”(kemenangan) dari Allah Swt, seperti diisyaratkan Alquran: Qad aflahal mu’minun allazinahum fi shalatihim khasyi’un.
Persoalan yang sering muncul adalah bagaimana menjadikan shalat itu khusyu”.
Khusyu’ bimakna “al-inhifat” artinya menundukkan diri pada aturan dan kaifiyat shalat yang sedang dilakukan.
Sejak berdiri betul menghadapkan badan, wajah dan menghadirkan hati dan pikiran kepada tempat sujud.
Lakukanlah konsentrasi menghadap Allah, lepaskan diri dari dimensi duniyawiyah, pusatkan perhatian dan masuk dalam dimensi ilahiyah, sebagai wujud dari makna “mi’raj”.
Kita berada di bumi, tetapi seolah-olah kita sudah berada di alam yang tinggi, mendaki langit.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/abdul-gani-isa-ketua-bwi-perwakilan-acehanggota-mpu-aceh.jpg)