Kamis, 16 April 2026

Kupi Beungoh

Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (III), Benarkah Putin Reinkarnasi Ivan ‘Ceulaka’ the Teribble?

Sejarah mencatat, dalam perjalanannya, Uni Soviet pernah memiliki 15 negara bagian yang terletak di benua Eropa dan Asia.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Oleh Ahmad Humam Hamid*)

SEKALIPUN Uni Soviet dilahirkan dengan Revolusi Bolshevik dengan membunuh Nicholas II, Tsar Rusia dari dinasti Romanov pada tahun 1917, warisan imperial Rusia tetap dipertahankan.

Pada tahun 1922, atas kesepakatan Rusia, Ukraina, Belarus, Georgia, Armenia, dan Azerbaijan membentuk federasi baru, yang bernama Uni Soviet.

Sejarah mencatat, dalam perjalanannya, Uni Soviet pernah memiliki 15 negara bagian yang terletak di benua Eropa dan Asia.

Pemimpin pertamanya adalah tokoh utama Revolusi Bolshevik, pimpinan partai Komunis, Vladimir Lenin.

Walaupun Lenin dan seluruh jajarannya sangat membenci rezim Tsar, namun ia dan para penggantinya tetap saja menggunakan peta imperial kerajaan Rusia sebagai basis negara Uni Soviet.

Peta itu adalah sebuah negara terluas di dunia, tak tertandingi oleh negara manapun.

Negara ini terbentang mulai dari kawasan Baltik Eropa di Timur sampai ke Pantai Siberia yang berbatasan dengan Samudera Pasifik.

Sebagian besar Asia Utara adalah wilayah Uni Soviet, termasuk sebagaian Asia Tengah.

Lenin dan pengikutnya mengecam keras imperialisme.

Namun Uni Soviet yang dibangun atas dasar wilayah Tsar itu, di bawah Partai Komunis, adalah sebuah imperium yang setara dengan imperium Tsar.

Secara geografis, perilaku, dan praktek menjaga keutuhan wilayah yang dilakukan Partai Komunis  tetap saja serupa, walaupun  tak sangat  sama dengan apa yang dilakukan oleh para tsar generasi Romanov selama ratusan tahun.

Ketika Presiden Boris Yeltsin yang fisiknya sangat rapuh saat berkuasa, melihat seorang anak muda yang sangat dinamis, dengan latar belakang perwira muda KGB, ia segera tertarik.

Tidak ada cerita panjang ketika Yeltsin memilih Putin untuk sebuah pekerjaan besar negeri itu, yakni sebagai pimpinan FSB-badan rahasia pengganti KGB pada tahun 1998.

Walaupun Yeltsin dipastikan tahu banyak tentang Putin, berbagai pihak menyebutkan seolah Yeltsin tidak mengenal lebih dalam tentang Putin.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved