Breaking News:

Kupi Beungoh

Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (III), Benarkah Putin Reinkarnasi Ivan ‘Ceulaka’ the Teribble?

Sejarah mencatat, dalam perjalanannya, Uni Soviet pernah memiliki 15 negara bagian yang terletak di benua Eropa dan Asia.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Sikap Putin membuat sebagian rakyat Rusia yang rindu dengan ketegasan pemimpin dan keutuhan Rusia mulai menaruh harapan pada Putin.

Pilihan Putin untuk melindungi Yeltsin dari tuduhan korupsi adalah sebuah resep yang dapat dimaafkan oleh sebagian rakyat Rusia, yang melihat ada tantangan besar lain negara yang mesti diselesaikan, termasuk menjaga stabilitas.

Baca juga: Vladimir Putin Keluarkan Ancaman Keras, Sanksi AS dan Uni Eropa ke Rusia Berarti Siap Perang

Baca juga: Putin: Sanksi Barat Mirip Deklarasi Perang, Zona Larangan Terbang Ciptakan Konflik Militer

Sambutan Hangat dari AS dan Inggris

Putin memenangkan pemilihan Presiden Rusia pada tahun 2000 dengan angka 53 persen, mengalahkan Gennady Zyuganov, calon dari Partai Komunis Rusia.

Kini hamparan kekuasaan terbentang luas di hadapan Putin.

Ia kini tahu saraf dan otot kekuasaan yang kemudian akan membuatnya mampu “mengurus” Rusia selama 20 tahun lebih sampai dengan hari ini. 

Putin kini tahu ketika sampai pada kepentingan nasional negara, nilai dan pilihan strategis dapat mengalahkan nilai-nilai moral.

Itu terbukti ketika ia membumihanguskan Grozny, ibu kota Chechnya, dan membantai puluhan ribu muslim Chechnya, AS dan sekutunya tidak begitu peduli.

Karena pejuang kemerdekaan Chechnya sama di mata mereka, yakni teroris Islam radikal yang sangat berbahaya.

Dalam beberapa kesempatan awal, Bill Clinton, presiden AS, dan Tony Blair menunjukkan sikap hangat dan bersahabat dengan Putin.

Kunjungan luar negeri pertama Putin ke London mendapat sambutan hangat dari Tony Blair.

Ketika wartawan mempersoalkan tentang pelanggaran HAM Rusia di Chechnya kepada Blair di hadapan Putin, Blair menjawab ringan “nanti akan dicari dan dibicarakan.” 

Sikap awal Putin justru mampu memperdayakan Madeline Abraight, Menlu AS cerdas dan keras, seperti catatan Human Rights Watch (2007).

Ketika Albraight pertama sekali bertemu Presiden Putin pada awal Februari 2000, di Moskow ia memuji dan menaruh harapan kepada pemimpin baru Rusia itu.

Ia membicarakan dan tidak mempersoalkan tentang pemboman ibu kota Grozny Chechnya yang saat itu sedang mendapat pemboman paling keras, berikut dengan pelanggaran HAM berat oleh tentara Rusia.

Ketika wartawan bertanya lebih jauh, ia merespons bahwa ia dapat merasakan arti kebijakan Putin untuk masa depan negara Rusia.

Putin pun semakin tahu bagaimana “isi dalam” AS dan sekutunya ketika sampai pada kepentingan nasional negaranya masing-masing.

Sebagaimana hampir seluruh pendahulunya yang melihat eksistensi Rusia sebagaimana peta imperium para Tsar dinasti Romanov, begitu juga Putin.

Idealnya, Rusia baginya, baik secara kekuasaan, paling kurang secara pengaruh, adalah seluruh wilayah yang berada di bawah bekas Federasi Uni Soviet, dan untuk ia akan melakukan apa yang harus dilakukan.

Baca juga: Dokumen Rahasia Serangan Rusia ke Ukraina Bocor, Terungkap Masa Serangan Berlangsung 15 Hari

Baca juga: Rusia Segera Rebut Kembali Pembangkit Listrik Nuklir Terbesar Kedua Ukraina, Setelah Zaporizhzhia

Ivan Ceulaka

Banyak tulisan sinis yang menyamakan Putin dengan Tsar Rusia, Ivan the Teribble atau Ivan yang mengerikan, kalau dalam bahasa Aceh disebut Ivan Ceulaka, dalam menangani Rusia.

Ivan IV Vasilyevich adalah Tsar pertama Rusia pada tahun 1547 yang terkenal cerdas, kejam, dan brutal.

Ivan tak segan memberikan musuhnya kepada anjing pemburu untuk disantap.

Ia juga gemar merebus dan memanggang di atas api sampai mati pembantunya yang terbukti berkhianat.

Di sebalik itu, Ivan, pada abad ke pertengahan abad 16, adalah peletak dasar ekspansi kerajaan Rusia.

Ia melipatduakan luas imperium dengan perang dan kekerasan itu terbentang dari Sungai Volga di Timur Eropah, sampai ke Vladivostok di barat, di tepi Samudra Pasifik di Asia.

Putin tentu saja bukan Ivan the Terrible, tetapi ada inspirasi yang diberikan oleh Ivan kepada Putin tentang bagaimana mengurus Rusia dengan “cara Rusia”, termasuk ketika menghadapi ancaman luar negeri.

Ia tak segan mengeksekusi musuhnya dengan berbagai cara, penangkapan, penjara, penembakan misterius, dan bahkan penggunaan racun radio aktif.

Pada tahun 2010 Wali Kota Oryol, yang terletak 350 kilometer dari Moskow membangun monumen Ivan the Terrible untuk menghormati jasa Tsar pertama itu.

Monument itu mendapat dukungan sekaligus kecaman dari public.

Ketika persesmian itu dilakukan, gubernur provinsi Oryol Oblas, Vadim Potomsky, sekutu dekat Putin, menyebutkan jasa besar Ivan kepada Rusia, baik keamanan dan kesolidan dalam negeri maupun penghormatan luar negeri.

Ia mensejajarkan  pengakuan dunia kepada Ivan dahulu, dan ketangguhan Putin mendapatkan pengakuan internasional hari ini.

Putin maupun kantor Presiden Rusia tidak memberikan komentar pada waktu itu.(BERSAMBUNG)

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

BACA ARTIKEL KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved