Kamis, 16 April 2026

Kupi Beungoh

Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (III), Benarkah Putin Reinkarnasi Ivan ‘Ceulaka’ the Teribble?

Sejarah mencatat, dalam perjalanannya, Uni Soviet pernah memiliki 15 negara bagian yang terletak di benua Eropa dan Asia.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Seperti ditulis dalam buku Fragile Empire (Judah 2012) informasi yang hanya diketahui oleh Yeltsin tentang Putin, selain perwira muda komunis KGB yang handal, ia adalah pembantu setia sekaligus pekerja keras untuk Wali Kota St. Petersburg, Anatoly Sobchak pada awal tahun 90an.

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (I): Denazifikasi dan Demiliterisasi Ukraina

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (II), Emosional atau Logiskah Alasan Putin?

Peran Yeltsin dalam Karir Putin

Yeltsin merasa pilihannya untuk Putin tidak salah, karena disamping patuh dan setia, ia dipandang sangat cakap.

Hanya setahun menjadi memimpin FSB, ia ditunjuk menjadi Perdana Menteri Rusia, sebuah jabatan tertinggi Rusia setelah Presiden.

Catatan menyebutkan, Putin adalah Perdana Menteri kelima dalam masa dua tahun yang gonta-ganti ditunjuk oleh Yeltsin.

Putin tak butuh waktu lama untuk diakui.

Segera setelah ia menjadi Perdana Menteri, terjadi serangan bom apartemen di sejumlah kota- Moskow, Buynaksk, dan Volgodonsk yang menewaskan antara 200-300 jiwa.

Banyak kalangan menduga teror yang dikaitkan dengan pemberontak Chechnya di Kaukasus itu adalah strategi kontra intilejen Putin melalui FSB sebagai pintu masuk selanjutnya untuk menjadi orang nomor satu Rusia (Dunlop 2001).

Ketika ia ditunjuk Perdana Menteri oleh Yeltsin, rakyat Rusia sudah sangat muak dengan kelemahan dan kerapuhan Yeltsin.

Ia tidak mampu menyelesaikan pemberontakan Chechnya, ia lemah terhadap barat, dan mabuk 24 jam dengan alkohol.

Selanjutnya Yeltsin juga tak berdaya menghadapi Oligharki baru Rusia yang dengan tangannya sendiri melahirkannya dan membesarkannya.

Survei menyebutkan tingkat penerimaan publik terhadap kinerja pemerintahan Yeltsin pada saat itu pada angka 3 persen.

Putin tahu benar perasaan publik Rusia yang putus asa, dan apa langkah selanjutnya yang mesti ia kerjakan. 

Ia memberikan reaksi yang paling keras terhadap Chechnya.

Putin mengerahkan pemboman yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap pemeberontakan itu.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved