Senin, 8 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Tugu 0 Kilometer dan Pantai Iboih, si Cantik di Barat Indonesia

SABANG merupakan kota bagian barat Indonesia yang paling diminati wisatawan, baik dari Aceh maupun luar Aceh

Tayang:
Editor: bakri
For Serambinews.com
INTAN MAKFIRAH, Alumnus Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh, melaporkan dari Sabang 

OLEH INTAN MAKFIRAH, Alumnus Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh, melaporkan dari Sabang

SABANG merupakan kota bagian barat Indonesia yang paling diminati wisatawan, baik dari Aceh maupun luar Aceh.

Kota ini menyajikan tempat wisata yang memikat hati para traveler untuk dapat menyinggahinya.

Tak terkecuali dengan saya dan temanteman.

Menteri Agama RI periode 2014-2019, Lukman Hakim Saifuddin saat sampai di Titik Nol Kilometer Indonesia di Sabang, pada Selasa (28/9/2021).
Menteri Agama RI periode 2014-2019, Lukman Hakim Saifuddin saat sampai di Titik Nol Kilometer Indonesia di Sabang, pada Selasa (28/9/2021). (Foto: Instagram Lukman Hakim Saifuddin)

Beberapa hari lalu, saya bersama tim inti UKM Jurnalistik UBBG berbincang untuk mencari destinasi yang cocok dijadikan tempat liburan sekaligus tempat yang tepat untuk kami membuat video cantik berdimensi alam.

Kepenatan keseharian di kampus membuat kami menjadi ingin meluangkan waktu barang sebentar untuk bisa pergi berwisata.

Setelah berembuk panjang lebar, akhirnya Sabang menjadi pilihan kami.

Kami pun mulai menyusun jadwal dan sepakat berangkat pada Sabtu pagi.

Saya bersama lima teman bergegas menuju Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, pagi itu, karena keberangkatan dijadwalkan pukul 07.30 WIB, kami tiba di sana sejak pukul 07.00 WIB.

Baca juga: Usai Touring 73 Hari dan Tempuh 10.000 Km, Pasutri dari Aceh Tiba di Nol Kilometer Merauke

Baca juga: Setelah Tempuh Perjalanan 10.000 Km Naik Motor, Pasutri Asal Aceh Tiba di Nol Kilometer Merauke

Namun, sangat disayangkan, kapal keberangkatan pada jadwal yang kami rencanakan tidak berlayar, sehingga kami harus menunggu hingga jadwal keberangkatan pukul 10.00 WIB.

Kami pun memutuskan untuk sarapan dan ngopi pagi sejenak di warung yang terdapat di pelabuhan.

Seusai makan kami habiskan waktu duduk di bebatuan pinggir pantai Ulee Lheue, menikmati ombak pantai yang bersemburan ke sana kemari.

Kami berbincang-bincang tentang perjalanan yang akan kami lalui, sesekali senda gurau terlontar dari teman-teman.

Kamera yang menganggur pun ikut kami gunakan untuk berfoto.

Tiba pukul setengah 10.00 WIB kami putuskan untuk segera menuju dalam pelabuhan, sembari menanti kapal dengan membawa sepeda motor masingmasing.

Setelah dipersilakan, kami pun masuk menuju kapal.

Setelah memarkirkan sepeda motor, saya dan teman-teman naik ke atas untuk mencari lokasi terbaik untuk perjalanan kami.

Teman-teman saya mengusulkan untuk duduk di luar agar bisa leluasa melihat pemandangan lautan luas sepanjang perjalanan, saya mengiyakan.

Setelah menanti beberapa lama, kapal berlayar meninggalkan Banda Aceh menuju Kota Sabang.

Baca juga: VIRAL Video Tiktok Pamer Celana Dalam di Tugu Nol Kilometer, Tiga Waria Ditangkap

Sepanjang perjalanan, mata kami dimanjakan dengan bentangan lautan biru yang luas.

Kami mengobrol tiada henti, hingga di tengah lautan kami disambut lumba-lumba yang berloncatan di samping kapal.

Satu teman tertidur lelap, karena tak sanggup mengarungi laut, saya bersama teman yang lain antusias mengabadikan momen dan bersenda gurau.

Kami tiba di Sabang sekitar pukul 12.30 WIB, perjalanan yang cukup melelahkan.

Turun dari kapal, kami langsung tancap gas menuju penginapan, di sana kami beristirahat sejenak.

Tak menyiakan waktu hanya untuk beristirahat, kami segera menuju warung untuk makan siang dan berencana untuk langsung meluncur ke tempat wisata seusai mengisi perut.

Walau saya baru pertama kali mengunjungi Kota Sabang, saya tetap tak perlu cemas dengan rute perjalanan.

Soalnya, beberapa teman saya sudah sangat familier dengan tempat ini, sehingga kami bisa mengunjungi tempat apa saja yang menarik hati.

Kami meluncur menuju ikon Kota Sabang, ya Tugu Titik 0 (Nol) Kilometer Indonesia.

Ternyata butuh waktu satu jam lebih untuk menuju lokasi ini.

Baca juga: Pemko Sabang Hadiri Bedah Buku Pendidikan dari Titik Nol Kilometer

Saya sama sekali tak membayangkannya, karena selama ini hanya melihat gambar atau foto saja.

Saya mengira Tugu Km 0 berada tak begitu jauh.

Namun, untuk menempuhnya, ternyata kami harus menembus hutan dengan trek berbelok dan menanjak.

Walau memakan waktu dan mengharuskan melewati rute yang menantang, kami tetap semangat, terlebih di sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan indah yang memanjakan mata.

Tampak hutan rindang yang menyejukkan hati dan di sisi lainnya kita dapat menikmati hamparan luas lautan yang berwarna biru dan berkilau akibat pantulan cahaya matahari.

Setelah melewati perjalanan yang cukup menguji kesabaran, kami pun tiba di Tugu 0 Kilometer Indonesia.

Tampak monumen yang berdiri tegak menunjukkan keunggulannya sebagai salah satu bangunan yang ingin ditemui semua orang.

Selayaknya tempat wisata, tugu atau monumen ini juga dilengkapi dengan beberapa fasilitas seperti tempat parkir, taman, tempat sampah, dan banyak spot untuk berfoto.

Tak hanya itu, lokasi ini juga diramaikan dengan pedagang yang menjajakan berbagai pernak- pernik cendera mata mata.

Baca juga: Komunitas Wartawan Kibarkan Bendera di 0 KM Banda Aceh

Tak perlu menunggu waktu lama, saya bersama teman-teman langsung mengambil tempat untuk berfoto.

Karena tujuan inti kami adalah pembuatan video, kami pun mulai mencari spot yang cocok dan segera membuat video yang memang sudah ada konsep dari awal.

Drone mulai diterbangkan dan video berlanjut dengan pengambilan gambar menggunakan kamera.

Puas bermain di titik 0 Indonesia, kami bergegas melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya.

Lokasi ini sebenarnya sudah kami lewati, tapi kami memutuskan untuk mengunjunginya setelah Tugu Titik 0 Indonesia, karena takut tidak terkejar.

Tempat yang akan kami datangi selanjutnya ialah Pantai Iboih, Sabang.

Saat menuju ke Pantai Iboih hari sudah sore dan saat langit mulai berubah ke warna jingga, kami pun tiba di Pantai Iboih Sabang.

Kesan pertama yang bisa saya berikan adalah rasa takjub, mata saya sangat terpana dengan keelokan alam yang tersaji.

Hamparan lautan biru diselimuti pasir putih yang berkilau.

Tak ketinggalan, langit senja yang lembut seakan menambah pesona tersendiri lokasi ini.

Baca juga: Menikmati Indahnya Matahari Terbenam di Sabang Fair, Syahdunya Suasana Laut Manjakan Mata Pengunjung

Ada beberapa perahu yang siap mengantar untuk menyeberangi pantai.

Namun, karena mengingat waktu yang cukup singkat, kami memilih untuk tetap berada di pantai Iboih Sabang yang tak kalah menarik tentunya.

Para tim sigap mengambil kamera juga drone untuk mengabadikan pesona Pantai Iboih.

Saya yang memang hobi bersua foto juga tentunya tak mau kehilangan momen indah ini.

Kami mengabadikan berbagai foto, melihat perahu yang bertengger cantik di pinggir pantai, saya juga turut mengabadikan momen di sana.

Sepanjang mata memandang, kami dimanjakan oleh pemandangan elok yang tiada henti kami kagumi.

Di pinggiran laut terdapat karang-karang yang menambah daya tarik dari pantai ini.

Sesekali ada tawa dari anakanak kecil yang bermain bersama dan tampak kagum dengan drone yang terbang ke sana kemari mengambil gambar.

Puas berfoto, kami lanjut dengan pembuatan video.

Menjelang magrib, kami memutuskan berhenti sejenak dan mencari musala terdekat untuk menunaikan ibadah shalat Magrib.

Seusai shalat, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan.

Kami pulang bekejaran dengan langit yang juga perlahan mulai gelap.

Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, kami pun tiba di penginapan.

Tentu saja ini merupakan salah satu pengalaman yang takkan terlupakan.

Menghabiskan waktu bersama teman-teman dekat memandangi pemandangan indah yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Kami juga tidak sabar menunggu hari esok untuk kembali menjelajahi tempat-tempat indah di bagian paling barat Indonesia ini.

Setelah lelah seharian, kami menghabiskan malam dengan makan malam di salah satu tempat makan di Kota Sabang, lalu kembali ke penginapan untuk mengistirahatkan tubuh yang teramat penat.

Baca juga: Taman l Love Sabang jadi Landmark dan Spot Foto Primadona Wisatawan di Kota Sabang

Baca juga: Teungku Agam: Wisata Sabang Harus Maju, Iman Jangan Terganggu

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved