Opini
IDI Reborn di Negeri Pejuang
Bila ditarik ke belakang, sejarah lahirnya IDI bersinambung dengan organisasi dokter Indonesia pada masamasa sebelumnya
” Dalam praktiknya, dapat pula kita saksikan bagaimana gigihnya IDI dan anggotanya melakukan kegiatan kemanusiaan ketika bencana negeri ini.
Hampir tidak ada bencana besar di pelosok negeri ini tanpa kehadiran anggota IDI di lokasi tersebut.
Bukti lain, sejak pandemi mendera negeri ini, IDI dan seluruh anggotanya berjibaku membantu masyarakat.
Kantor Berita Antara (9/9/2021) melaporkan rilis Ketua Tim Mitigasi PB IDI yang menyampaikan bahwa sebanyak 730 dokter telah gugur akibat terpapar pandemi Covid 19 saat merawat pasien.
Muktamar merupakan kekuasaan tertinggi organisasi, sebagai forum pelaksanaan kedaulatan seluruh anggota IDI.
Diadakan sekali dalam tiga tahun, untuk menetapkan AD/ART, tata laksana organisasi, dan kebijakan strategis nasional.
Ia juga menilai pertanggungjawaban President PB IDI (Ketua Umum) dan mendengarkan laporan ketua MKEK, MKKI, dan MPPK, memilih President Elect PB IDI (Ketua Terpilih) dan mengukuhkan President Elect sebelumnya menjadi President PB IDI dan juga mengukuhkan Ketua MKEK, MKKI, dan MPPK yang baru terpilih.
Dan masih banyak kewenangan lain dari Muktamar IDI lainnya.
Baca juga: Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia Siap Menjadi yang Pertama Disuntik Vaksin Covid-19
Selain, kegiatan di atas, tidak dapat dipungkiri bahwa momen Muktamar merupakan arena silaturahmi Pengurus IDI dan perhimpunan maupun anggota dari seluruh Indonesia.
Bukan hanya dokter yang akan hadir, para istri dokter yang tergabung dalam organisasi Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) pada saat bersamaan juga hadir untuk menyelenggarakan muktamarnya.
Belum lagi dari organisasi profesi kesehatan lain yang hadir sebagai undangan maupun pihak farmasi yang menjadi pendukung atas terlaksananya Muktamar.
Jadi dapat dibayangkan begitu ramainya kota Kota Serambi Mekah, Banda Aceh mendatang andai tidak ada Covid 19.
Inspirasi dari negeri pejuang Banda Aceh dikenal sebagai kota tua dengan kegemilangan sejarahnya.
Pada masa kesultanan, Banda Aceh dikenal sebagai Bandar Aceh Darussalam.
Kota yang dibangun oleh Sultan Johan Syah, pada hari Jumat, 1 Ramadhan 601 H.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ZAENAL-ABIDIN-Penulis-adalah-Ketua-Umum-PB-IDI-periode-2012-2015.jpg)