Minggu, 3 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Belajar Mitigasi Bencana di Stasiun Geofisika Aceh Besar

Masih begitu jelas terngiang dalam ingatan masyarakat Aceh tentang bagaimana dahsyatnya gempa berkekuatan magnitudo 9,3 SR

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
AZWAR ANAS, S.Pd., Pegiat FAMe Chapter Lhokseumawe dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Sukma Bangsa, melaporkan dari Lhokseumawe 

OLEH AZWAR ANAS, S.Pd., Pegiat FAMe Chapter Lhokseumawe dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Sukma Bangsa, melaporkan dari Lhokseumawe

Masih begitu jelas terngiang dalam ingatan masyarakat Aceh tentang bagaimana dahsyatnya gempa berkekuatan magnitudo 9,3 SR yang memicu tsunami pada 2004 silam.

Gempa dahsyat disertai gelombang tinggi tersebut setidaknya menelan sekitar 240.000 jiwa dari sekitar 12 negara yang terdampak.

Tak hanya menelan korban jiwa, tsunami Aceh juga meninggalkan trauma dan duka yang mendalam bagi masyarakat Aceh akibat kehilangan saudara, keluarga, hingga harta benda.

Beberapa mahasiswa semester I Prodi Ilmu Komputer Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh menciptakan tiga rangkaian alat elektronika berbasis pemrograman. Alat yang dinamakan
Beberapa mahasiswa semester I Prodi Ilmu Komputer Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh menciptakan tiga rangkaian alat elektronika berbasis pemrograman. Alat yang dinamakan "water level censor" ini mampu mendeteksi ketinggian air dan dapat digunakan untuk mitigasi bencana, terutama ancaman banjir. (FOR SERAMBINEWS.COM)

Kini 17 tahun sudah tsunami Aceh berlalu.

Proses rekonstruksi dan penataan kembali Aceh sudah selesai, bahkan infrastruktur yang dibangun pascatsunami jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Namun, apakah pembangunan manusia di Aceh, khususnya dalam sektor kebencanaan juga sudah seutuhnya kembali? Jika ditinjau dari letak geografis, Aceh, khusunya Indonesia, berada pada wilayah tiga lempeng bumi, yaitu Pasifik, Eurasia, dan Indo-Australia, sehingga mengakibatkan banyaknya gunung berapi di Indonesia sebagai akibat dari aktivitas lempeng-lempeng tersebut.

Selain itu, Indonesia juga dilalui oleh dua jalur pegunungan, yaitu Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania yang akan berdampak pada intensitas terjadinya bencana alam seperti gempa bumi dan gunung meletus.

Mengingat negara kita berada di jalur cincin api (ring of fire) dan sangat rawan akan bencana alam, maka perlu kiranya ada penanganan khusus dengan merumuskan strategi yang pragmatis dan berdaya guna untuk membentuk masyarakat yang sadar akan bencana.

Pendidikan merupakan salah satu sektor yang dianggap mampu memberikan solusi terhadap permasalahan ini.

Baca juga: Mahasiswa UBBG Ciptakan Alat Pendeteksi Ketinggian Air untuk Mitigasi Bencana

Baca juga: Pencegahan dan Mitigasi Perlu Ditingkatkan

Sektor pendidikan merupakan hal yang sangat fundamental dalam mengedukasi dan membentuk karakter siswa sebagai elemen masyarakat dengan memberikan pengetahuan tentang mitigasi bencana secara intensif dan berkala.

Memahami tentang mitigasi bencana menjadi amat penting.

Secara umum, tujuan utama dari pendidikan mitigasi bencana adalah untuk mengurangi risiko atau dampak yang ditimbulkan oleh bencana, khususnya bagi penduduk seperti korban jiwa dan kematian, kerugian ekonomi (economy cost) dan kerusakan sumber daya alam.

Mitigasi bencana juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar lebih siaga terhadap bencana dengan mempersiapkan segala sesuatu dalam jangka panjang dan perencanaan yang matang, serta meningkatkan pengetahuan masyarakat (public awarness) dalam menghadapi serta mengurangi dampak dari bencana sehingga masyarakat dapat hidup dengan aman.

Sebagai upaya untuk memberikan edukasi tentang mitigasi bencana bagi peserta didik, SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe, tempat saya mengajar, berkunjung ke Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Aceh Besar.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved