Minggu, 3 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Belajar Mitigasi Bencana di Stasiun Geofisika Aceh Besar

Masih begitu jelas terngiang dalam ingatan masyarakat Aceh tentang bagaimana dahsyatnya gempa berkekuatan magnitudo 9,3 SR

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
AZWAR ANAS, S.Pd., Pegiat FAMe Chapter Lhokseumawe dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Sukma Bangsa, melaporkan dari Lhokseumawe 

Kunjungan ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai tanggap bencana terhadap siswa agar mereka siap dan siaga dalam menghadapi berbagai bencana yang terjadi.

Sesi kunjungan selama setengah hari itu dibagi menjadi dua bagian.

Sesi pertama tentang pengenalan BMKG secara umum dan penyampaian materi tentang mitigasi bencana.

Penyampain materi diawali dengan membuka wawasan siswa tentang letak Indonesia yang secara geografis memang berada dalam kawasan rawan bencana.

Pemateri menunjukkan peta Indonesia dengan deteksi warna daerah-daerah tertentu yang berada dalam zona rawan bencana gempa bumi dan tsunami.

Setelah memahami hal ini, siswa kemudia diberikan pemahaman singkat terkait gempa bumi dan tsunami, seperti karakteristik gempa bumi, kriteria gempa bumi yang dapat menimbulkan tsunami, tanda-tanda tsunami, proses terjadinya tsunami, hingga langkah-langkah tanggap tsunami.

Baca juga: Peringatan 17 Tahun Tsunami Aceh, Sandiaga Ingatkan Upaya Pencegahan dan Mitigasi Perlu Ditingkatkan

Berdasarkan penyampaian materi dari staf BMKG, untuk kejadian gempa bumi masyarakat perlu menyiagakan diri dalam tiga hal sekaliguas, yaitu sebelum, di saat, dan sesudah gempa bumi.

Sebelum gempa bumi terjadi, masyarakat perlu mempersiapkan diri dengan mengenali lingkungan tempat tinggal, misalnya letak pintu dan tangga darurat, serta memahami penggunaan alat-alat P3K dan alat pemadam kebakaran.

Sedangkan saat gempa bumi terjadi masyarakat perlu menghindari kawasan yang mungkin akan terjadi longsor, rekahan tanah, dan bangunan tinggi yang ada di sekitarnya.

Setelah gempa bumi yang perlu dilakukan adalah menjaga diri seperti tidak masuk ke bangunan yang terkena gempa, memeriksa lingkungan sekitar, dan selalu waspada terhadap bencana susulan lainnya.

Poin fundamental dalam sesi penyampaian materi oleh narasumber adalah menyadarkan siswa tentang mitigasi bencana.

Kali ini BMKG mengajak siswa untuk menyiapkan tas siaga bencana.

Tas ini akan digunakan jika suatu saat bencana terjadi tiba-tiba, tanpa prediksi.

Tas siaga bencana dimaksud terdiri atas beberapa benda penunjang hidup selama terjadinya bencana, seperti kotak P3K, makser, makanan ringan, handphone dan charger, dokumen pribadi, pakaian, senter, peluit, hingga radio.

Benda-benda tersebut merupakan kebutuhan primer masyarakat saat bencana terjadi.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved