Salam
Masyarakat Butuh Dokter yang Cerdas dan Melayani
Ketika membuka (secara virtual) Muktamar ke 31 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang berlangsung di Banda Aceh, Presiden Joko Widodo
Ketika membuka (secara virtual) Muktamar ke 31 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang berlangsung di Banda Aceh, Presiden Joko Widodo setidaknya mengingatkan dua hal penting.
Yakni dokter-dokter di Indonesia harus terus memperbarui ilmunya dan meningkatkan sistem pelayanan kesehatan masyarakat, terutama masyarakat yang jauh dari kota.
Menurut Presiden, para dokter Indonesia harus adaptif terhadap teknologi terbaru.
Pandemi Covid 19 yang berlangsung selama dua tahun terakhir memaksa semua untuk terus memperbaiki sistem kesehatan agar semakin tangguh dalam menghadapi berbagai situasi.
Disrupsi teknologi yang sudah berlangsung juga ikut mendisrupsikan dunia kedokteran dan farmasi Tanah Air.
Oleh karena itu, Presiden meminta agar transformasi sistem kedokteran harus dipercepat guna menghadirkan para dokter yang unggul.
Termasuk juga, Presiden meminta dokter adaptif terhadap perkembangan dalam sistem pelayanan kesehatan untuk mewujudkan pelayanan yang prima sekaligus merata, khusus di daerah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T).
Apa yang dikemukakan Presiden Jokowi sesungguhnya itulah persoalan kedokteran dan kesehatan di Indonesia.
Yakni, kualitas dokter yang belum meyakinkan banyak masyarakat kelas atas serta model pelayanan yang masih mengecewakan masyarakat.
Baca juga: Presiden Buka Muktamar IDI
Baca juga: Muktamar IDI Dibuka, Diikuti 1.500 Dokter dari 34 Provinsi
Itu pula yang selama ini menjadi alasan utama masyarakat kelas menengah atas banyak yang memilih berobat ke luar negeri.
Masyarakat Aceh, misalnya lebih yakin berobat ke Penang dan Kuala Lumpur (Malaysia).
Selain mendapatkan pelayanan yang baik, mereka juga merasa mendapat diagnosa atau keterangan yang akurat mengenai masalah penyakitnya dari dokter-dokter di luar negeri.
Dokter-dokter di luar negeri juga tidak meresepi banyak obat kepada pasien.
Berbeda dengan dokter-dokter di Indonesia yang “kemaruk” saat menulis resep obat.
Adalah Mora Claramita, Guru Besar dan Ketua Departemen Pendidikan Kedokteran, Profesi Kesehatan, dan Bioetika Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta, pernah mengungkapkan, di Indonesia, jumlah dokter praktik 100.000an, sedangkan idealnya 300.000 dokter (1 dokter/1.000 pasien).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/gubernur-aceh-menabuh-rapai-sebagai-tanda-dibukanya-muktamar-ikatan-dokter-indonesia-idi.jpg)