Salam
Masyarakat Butuh Dokter yang Cerdas dan Melayani
Ketika membuka (secara virtual) Muktamar ke 31 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang berlangsung di Banda Aceh, Presiden Joko Widodo
Dokter spesialis yang praktik jauh lebih sedikit.
Sebab, hanya 20 persen dari lulusan dokter mencapai gelar spesialis (karena berbagai faktor).
Setiap tahun, dari 90 fakultas kedokteran yang ada, Indonesia meluluskan 7.000 dokter.
Karenanya, hingga kini Indonesia masih dihadapkan pada dilema, selain kekurangan dokter, distribusinya juga tidak merata.
Jumlah masyarakat yang harus dilayani ada sekitar 272 juta jiwa.
Baca juga: Presiden Buka Muktamar IDI di Banda Aceh
Pemerintah pun mengakui, program studi kedokteran memang masih menyimpan banyak masalah.
Mulai dari distribusi lulusan yang tidak merata hingga mutu lembaga dan infrastruktur pendidikan.
Kondisi tersebut berdampak pada bidang kesehatan nasional.
Dokter-dokter menumpuk di kota besar terutama Pulau Jawa.
Sedangkan di daerah terluar, terdepan dan tertinggal sangat kurang.
Makanya, sejak beberapa tahun lalu, selain peningkatan akreditasi, Pemerintah juga mengizinkan pembukaan prodi kedokteran di beberapa wilayah yang dinilai sangat membutuhkan.
Secara nasional, upaya menjaga kualitas pendidikan kedokteran sudah terjadi dua dekade terakhir.
Standar Kompetensi Dokter Indonesia dirumuskan pertama kali di 2007, diperbarui setiap 5 tahun, diikuti Uji Kompetensi Dokter Indonesia di akhir masa pendidikan dokter.
Di dalam proses inilah sebenarnya dokter yang kita idam idamkan akan terwujud.
Dokter idaman masyarakat adalah dokter yang terampil, berjiwa sosial, dan pembelajar mandiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/gubernur-aceh-menabuh-rapai-sebagai-tanda-dibukanya-muktamar-ikatan-dokter-indonesia-idi.jpg)