Kupi Beungoh
Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XVI) - Peringatan Untuk Biden, Putin, dan Tsar Bomba 50 Megaton
Bayangkan kalau dia memang benar-benar kalap dan membuat suspense, lalu melepas beberapa hulu ledak rudal nuklir antar benua, Tsar Bomba
Oleh: Ahmad Humam Hamid *)
Pernahkan kita membayangkan jika ilmu psikologi yang berurusan dengan kajian proses dan fungsi mental, berikut dengan perilaku manusia juga menjadi sebuah dimensi perang yang sangat krusial?
Pernahkah dibayangkan kalau saat ini sejumah begawan psikologi AS bekerja dengan sangat keras dan cermat bersama dengan lembaga intelijen AS-CIA untuk membaca mental Putin dari jarak jauh dengan berbagai cara ?
Hal yang seperti ini bukanlah yang pertama kali dilakukan AS, karena telah pernah dilakukan terhadap banyak pemimpin dunia sekelas Adolf Hitler, Kuruchev, dan Ho Chi Minh.
Pada tahun 1943, ahli psikologi Klinis dari Universitas Harvard, Henry A. Murray, (Macias 2015) ditugaskan oleh CIA untuk mempelajari psikologi dan kepribadian Hitler.
Informasi itu memang sangat dibutuhkan untuk membuat berbagai keputusan penting sekutu dalam menghadapi Jerman.
Kajian jarak jauh tentang HItler didasari pada berbagai dokumen tertulis, foto, dan film, menyangkut dengan ucapan, tindakan,dan seluruh riwayat perjalanan hidupnya, dan mungkin dari beberapa sumber individu secara oral.
Baca juga: Eks Presiden Rusia Ungkap 4 Skenario Negaranya Bakal Menggunakan Senjata Nuklir
Temuan disimpulkan dalam ratusan halaman yang kemudian dijadikan sebagai komponen penting dalam menghadapi sang Fuhrer itu.
Kepribadian Hitler oleh Murray disimpulkan sebagai individu yang kadang paradoks kejiwaannya.
Hitler meganggap dirinya penyelamat Jerman dengan istilah “messiah”, ia menderita inferior kompleks, bahkan membenci diri sendiri, yang diatasinya dengan mencari cara untuk membuat dirinya superior.
Hal lainnya adalah ia tidak mempunyai empati, suka menghina kelemahan orang lain, dan ia mempunyai obsesi kekuasaan yang tinggi.
Dua hal yang merupakan kompensasi terhadap inferioritasnya, Hitler mempunyai kemampuan teatrikal yang tinggi, yang kemudian membuatnya berkharisma.
Akhirnya Murray menulis Hitler mempunyai gejala penyakit jiwa skizofrenia, neurosis, dan histeria yang mengantarkannya menjadi psikopat, sekaligus dikatator.
Ketika Hitler bunuh diri diambang kekalahan Jerman, Muller telah menulis kemungkinan itu dua setengah tahun sebelumnya.
Laporan itu menulis sejumlah kemungkinan tentang berakhirnya Hitler; bunuh diri ketika kalah perang, gila, menjadikan dirinya korban dengan cara ikut dalam peperangan, dan mencari cara untuk dibunuh oleh Yahudi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ahmad-humam-hamid_sosiolog-guru-besar-universitas-syiah-kuala_ai.jpg)