Kupi Beungoh
Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XVI) - Peringatan Untuk Biden, Putin, dan Tsar Bomba 50 Megaton
Bayangkan kalau dia memang benar-benar kalap dan membuat suspense, lalu melepas beberapa hulu ledak rudal nuklir antar benua, Tsar Bomba
Laporan itu menulis, semua jalan menuju mati itu akan dilakukan Hitler pada saat terakhir ketika Jerman kalah dan tidak mungkin lagi berperang.
Kasus Hitler menunjukkan bagaimana strategi perang tidak hanya didasarkan kepada berbagai faktor fisik, seperti medan, kekuatan pasukan, alat dan tehnologi perang, serta berbagai temali ekonomi dan budaya pihak lawan.
Baca juga: 5.000 Warga Kota Mariupol Tewas, Menjadi Korban Keganasan Serangan Brutal Pasukan Rusia
Kasus itu juga menerangkan betapa perang juga memerlukan kemampuan membaca dengan baik, jalan pikiran musuh, terutama pengambil keputusan, seperti kasus Hitler atau yang serupa dengannya.
Kita tidak tahu berapa orang pemimpin dunia yang karakternya telah dibaca dengan baik oleh jaringan intelijen seperti apa yang dilakukan oleh AS melalui CIA nya dalam masa masa terdahulu.
Adalah biasa jika membaca pikiran pemimpin perang seperti yang dilakukan terhadap Hitler oleh AS. Hal yang sama juga dilakukan oleh negara lain untuk membaca pikiran pemimpin negara yang menjadi lawan, termasuk Rusia juga mungkin mempelajari Joe Biden.
Tindakan Putin yang menyerang Crimea, dan Suriah dan cawe-cawe di Libya pada 2014 dan 2015, diduga kuat, karena Rusia telah mempelajari watak Obama yang dianggap sangat hati-hati, dan bahkan pengecut.
Namun kajian psikologi pemimpin kini yang dihadapi adalah Putin, pemimpin sebuah negara, tidak hanya memiliki senjata konvensional, namun juga biologi dan kimia.
Dan yang paling parah, negara yang dipimpinnya itu mempunyai cadangan bom nuklir terbesar di dunia.
Ia menyerang negara tetangganya, dan ketika ia melihat sebagian negara lain ingin campur tangan ia mengancam .
Ancaman itu tidak pernah ada dalam kosakata perang selama puluhan tahun. Putin mengancam tidak menyebut nuklir, dengan menyebut “kalau itu saya gunakan, kalian akan lihat suatu peristiwa yang belum pernah terjadi dalam sejarah.”
Tak berapa lama kemudian ia memerintahkan tentaranya untuk persiapan perang ruklir.
Terhadap kondisi dan ancaman yang seperti itu, cukup beralasan semakin diperlukan data kejiwaan, dan bahkan riwayat masa kecil, dan remaja, dan sekalgus kepribadian dia yang sesungguhnya.
Dalam kondisi ancaman skala global nuklir, mungkin sumber daya dan dana yang diperlukan akan lebih besar dan hebat dari apa yang pernah dilakukan terhadap Hilter oleh ahli psikologi klinis Harvard, Murray pada tahun 1943.
Baca juga: Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida Khawatir, Rusia Akan Segera Gunakan Senjata Nuklir
Ancaman itu dia lakukan, ketika pada hari ketiga invasi, 27 Februari 2022, ia melihat solidnya AS dan anggota NATO untuk membantu Ukraina dalam menghadapi serangan Rusia.
Ia juga belum pernah melihat Eropa begitu serius, dan belum pernah pula ia melihat sejumlah negara tetangga yang selama ini “netral” dalam sejarah konflik Timur - Barat, seperti Finlandia dan Swedia, berbalik arah mendukung Ukraina.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ahmad-humam-hamid_sosiolog-guru-besar-universitas-syiah-kuala_ai.jpg)