Sabtu, 18 April 2026

Kupi Beungoh

Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XVI) - Peringatan Untuk Biden, Putin, dan Tsar Bomba 50 Megaton

Bayangkan kalau dia memang benar-benar kalap dan membuat suspense, lalu melepas beberapa hulu ledak rudal nuklir antar benua, Tsar Bomba

Editor: Muhammad Hadi
Dok Pribadi
Ahmad Humam Hamid, Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala 

Putin merasakan ancaman kesulitan ekonomi yang akan dihadapi Rusia, ketika AS mengerahkan seluruh instrumen ekonominya untuk mendesak dan “memaksa” masyarakat internasional untuk begabung dengan AS.

Putin bahkan tidak menyangka Swedia dan Finlandia bukan hanya mendukung Ukraina melalui statemen, namun lebih dari itu mengirim senjata pula.

Lepas dari itu, kedua negara itu juga tidak menolak peluang untuk bergabung dengan NATO.

Putin tidak punya pilihan lain, ketika hampir seluruh kekuatan Eropa, bersama AS berdiri bersama Ukraina, selain dari ancaman penggunaan senjata nuklir.

Bahkan hulu ledak nuklir besar yang dapat memusnahkan berbagai kota musuh, hanya dalam hitungan menit.

Pesan yang dikirim fatal, namun sangat sederhana, “saya-Rusia mungkin saja kalah, namun kalian semua juga akan punah”

Apa yang disampaikan oleh Putin tentang nuklir itu sama sekali berlawanan dengan apa yang pernah dia sampaikan pada waktu-waktu sebelumnya, ketika ia baru terpilih menjadi presiden pada awal tahun dua ribuan.

Baca juga: Tubuh Wanita Diraba Tengah Malam, Mengira Tangan Suaminya, Syok Saat Tahu Sosok Ini

Pandangan Putin tentang senjata nuklir ditulis dengan cukup baik pada bagian terakhir bab 2 dalam buku Kremlin Winter: Russia and the Second Coming of Vladimir Putin(Robert Service 2021)

Sejarawan Rusia berkebangsaan Inggris itu yang juga penulis biografi Lenin, Stalin, Trotsky, dan kini menulis tentang pandangan Putin dalam buku itu yang memuji keberhasilan ” detterence” nuklir selama 76 tahun.

Deterrene adalah sebuah keadaan dimana pihak yang bertikai-dalam hal ini negera pemilik senjata nuklir tidak menpunyai opsi,- karena  kepemilikan nuklir kedua pihak menjadi  alasan bagi keduanya untuk tidak menyerang.

Detternce berlanjut karena tidak akan ada pemenang. Putin memuji kondisi “dead lock” itu, yang dlanjutkan dengan berbagai perundingan dan langkah diplomasi-antara AS dan Uni Soviet.

Dalam tulisan itu, Service (2021) juga menjelaskan tentang komitmen Putin untuk melanjutkan kondisi itu, dan bahkan Putin berjanji ia tidak akan menggunakan nuklir, kecuali Rusia berada dalam situasi antara hidup dan mati.

Nuklir, semenjak dijatuhkan pertama kali di Hiroshima dan Nagasaki hanya menjadi arena kompetisi inovasi dan penelitian diantara para “pemain besar” dunia, terutama AS dan Uni Soviet-Rusia.

Selama 76 tahun senjata pembunuh massal itu tidak pernah digunakan, dan dalam setiap perang, sehebat dan segetir apapun perangnya, jangankan penggunaanya, penyebutannya pun tidak pernah ada.

Situasi yang hampir sama, namun berbeda pernah dihadapi oleh presiden AS, Harry  S, Truman, ketika perang Korea pada tahun 1950. 

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved