Kupi Beungoh
Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XVI) - Peringatan Untuk Biden, Putin, dan Tsar Bomba 50 Megaton
Bayangkan kalau dia memang benar-benar kalap dan membuat suspense, lalu melepas beberapa hulu ledak rudal nuklir antar benua, Tsar Bomba
Komandan perang AS yang pada saat itu dijabat oleh Jenderal Douglas MscArthur, panglima yang pernah menaklukan Jepang pada tahun 1945,melihat pengiriman aliran besar pengiriman Tentara Pembebasan Rakyat Cina ke Korea Utara sebagai halangan besar untuk menyelesaikan perang.
Baca juga: Gawat, Api Membakar 10.000 Ha Hutan di Sekitar Pembangkit Nuklir Ukraina, Radiasi Ancam Eropa
MacArthur minta izin kepada Truman untuk memperluas daerah Perang ke kawasan Manchuria, Cina yang akan dihujani dengan serangan udara dan laut.
Truman menolak, dan kemudian memberhentikan “jenderal pahlawan” itu dan mengangkat Jenderal Matthew Ridgway.
Truman tahu Jenderal MacArthur sedang mempersiapkan pengulangan keberhasian penaklukan Jepang ketika menjatuhkan bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki.
Apa indikatornya? Sekalipun MacArthur tidak pernuh menyebut nuklir dalam komunikasinya dengan Truman, diam-diam ia telah memerintahkan pengiriman perangkat senjata nuklir itu ke Pulau Guam di Samudra Pasifik, sekitar 4.600 kilometer dari pantai Manchuria.
Sejarah kemudian mencatat betapa, pilihan ideal Truman tidak selamanya salah, ketika harus memilih dengan alasan pragmatik yang kadang sangat berlawanan dengan nilai-nilai moral.
Lagi pula waktu itu tingkat capaian kemajuan nuklir AS jauh di atas Rusia dan Cina, yang sama-sama memihak dan membantu Korea Utara.
Truman dan kemudian penerusnya presiden Dwight D. Eisenhower kemudian disebut sebagai contoh baik kepemimpinan tentang pentingnya “judgment” moral pemimpin dari negara yang mempunyai senjata nuklir.
Kecuali statement Putin tentang senjata nuklir, ketika hari ini ia mengancam Barat yang dihubungkan dengan kemungkinan intervensi-ditujukan kepada AS dan NATO, ia hanya melanjutkan tradisi perang yang telah berumur ribuan tahun secara lebih terbuka.
Apa yang membuat berbeda kali ini adalah ketika perang dingin, posisi negara-negara Eropa yang bergabung dalam NATO sangat kuat. Dan akhir-akhir tampak NATO tidak solid.
Keadaan terakhir, dengan “kalahnya” AS di Afghanistan, dan kegagalannya yang berlanjut di Timur Tengah, seolah menggambarkan indikasi kekuatan AS sedang menurun.
Baca juga: Orang Dekat Presiden Rusia Vladimir Putin Sebut Ada Potensi Bencana Nuklir
Apalagi semenjak Trump menjadi Presiden, selera sebagian anggota NATO terhadap AS jauh berkurang, dan membuatnya tampak terlihat tidak kompak.
Tidak hanya itu, Eropa yang pernah mempunyai 500.000 tentara AS pada tahun lima puluhan, yang kemudian terus berkurang, tetapi tetap saja berada pada angka di atas dua ratus ribu sampai bubarnya Uni Soviet.
Pada tahun 1989 jumlah tentara AS di berbagai negara anggota NATO- Jerman Barat, Inggris,Italia, dan Yunani mencapai angka 250.000 lebih.
Angka itu sudah berkurang setelah perang dingin, dan pada tahun 2021 jumlah tentara AS di Eropa sekitar 80.000 personel.
Sementara itu jumlah kepemilikan bom nuklir Rusia yang terus bertambah, 100 bom nuklir AS B61 di Eropa nyaris tidak bertambah semenjak hancurnya Uni Soviet.
Sebagian pengamat menilai, asumsi dan kesimpulan Putin melalukan invasi ke Ukraina, karena memang semenjak ia berkuasa, ia telah membuat AS dan NATO tak bisa berbuat banyak ketika ia “menaklukkan” Chechnya dan melumpuhkan Georgia.
Ditambah dengan kesannya tentang pamor angkatan perang AS yang mulai pudar dengan kegagalan Afghanistan, Irak, dan terakhir Suriah.
Kesannya tentang kerapuhan Eopa, bahkan setelah Biden menjadi presiden tetap berlanjut.
Assumsi -asumsi itu kemudian membuatnya berani mengivasi Ukraina, dan ketika ia melihat gelombang tantangan yang begitu besar, ia mengeluarkan kartu “truft” liarnya, senjata nuklir.
Seriuskah Putin dengan ancamannya itu? Yang pasti Rusia punya semua instrument nuklir yang kini menunggu komando Panglima Tertingginya.
Diperkirakan Putin hanya akan berbicara kepada dua orang pembantu dan kepercayaan terdekatnya, Menteri Pertahanan Sergei Shoigu, dan kepala staff angakatan Perang Rusia, Valery Gerasimov
Menurut catatan lembaga perdamaian international Stockholm, SIPRSI (2022), Putin kini mengontrol stok terbesar persenjataan nuklir dunia sebanyak 6,255 hulu ledak.
Jumlah ini sedikit lebih besar dari jumlah total yang dimiliki oleh Pakta Pertahanan Atlantik Utara-NATO yakni AS 5550, Perancis 225, dan Inggris 225.
Namun dalam hal kesiapan peluncuran, jumlah hulu ledak nuklir AS lebih banyak yang siap,1.800 dibandingkan dengan Rusia yang berjumlah 1625 (Financial Review 2022).
Baca juga: AS dan Filipina Bakal Bikin Marah China Gara-gara Ini
Angka hulu ledak nuklir yang dilaporkan SIPRI itu adalah hulu ledak nuklir yang diatur dalam berbagai perjanjian internasional, sehingga jumlah angkanya diketahui.
Kesemua hulu ledak yang dimiili RUSIA, AS-NATO termasuk dalam klasifikasi senjata nuklir strategis karena mempunyai jangkauan jauh antar benua, dengan daya jelajah lebih dari 5.500 kilometer.
Berlainan dari senjata nuklir strategis adalah jenis senjata nuklir taktis, yang mempunyai jangkauan pendek dan menengah,dan dapat digunakan dalam perang terbuka.
Jika senjata nuklir strategis lebih berdimensi luas, semisal kota besar, dan berbagai titik strategis lawan diseluruh dunia , senjata nuklir taktis lebih berdimensi terbatas pada lokasi musuh yang dekat dengan peluncurannya.
Ketika perang nuklir diasosiasikan dengan kiamat, maka yang dimaksudkan adalah penggunaan senjata nuklir strategis baik yang diluncurkan dari kapal selam, maupun dari silo bawah tanah.
Dalam hal kekuatan daya ledak dan daya bunuh. Senjata nuklir Rusia berada pada tingkatan teratas, diikuti oleh Cina, kemudian baru AS.
ICBM Minutemen III yang dimiliki AS mempunyai daya ledak 475 koloton TNT, sementara Cina mempunyai DF 31 terbaru yang kekuatannya hampir dua kali Minutemen III, yakni 1000 kiloton.
Rusia mempunyai senjata nuklir yang jauh meninggalkan Cina dan AS, yakni Tsar Bomba, 50 megaton, atau setara dengan 50.000 kiloton.
Sebagai perbandingan, bom atom yang dijatuhkan AS di Hiroshima berkekuatan 16 kiloton, sementara di Nagasaki berkekuatan 21 kiloton.
Bandingkan dengan kekuatan yang dimiliki oleh ketiga negara itu saat ini dengan ribuan jumlahnya yang akan diluncurkan seandainya perang nuklir benar benar terjadi.
Berbagai pendapat kini muncul tentang opsi apa yang akan digunakan oleh Putin jika memang ia akan menggunakan senjata nuklir.
Apakah jenis nuklir taktis ataukah nuklir strategis. Hal ini menjadi lebih krusial, karena dalam beberapa hari ini telah terjadi sejumlah indikasi awal ketidakmampuan tentara Rusia menundukkan Ukraina.
Laporan terakhir bahkan menyebutkan tentara Rusia yang tewas telah mencapai belasan ribu orang, sebuah angka yang sangat dramatis dalam tempo hanya sebulan perang.
Jika angka ini benar, maka sebulan perang di Ukraina jumah tentara Rusia yang tewas berimbang dengan tewasnya lebih dari 15.000 tentara Uni Soviet ketika pendudukan Afghanistan selama 10 tahun.
Angka tewasnya tentara Rusia sampai saat ini belum juga mendapat konfirmasi, namun Rusia mengakui dua jenderalnya tewas di Ukraina.
Baca juga: Rusia Ancam Dengan Senjata Nuklir, Prancis Peringkatkan Putin : NATO Adalah Aliansi Nuklir
Letjen Yakov Rezantsev, komandan Divisi Gabungan 41, dan Mayjen Andre Sukhovetsky, Wakil Komandan Divisi Gabungan 41 angkatan Perang Rusia. Rezantsev, tewas dalam perang terbuka perebutan kota Kherson.
Sementara Sukhovetsky mati ditembak sniper-penembak jitu Ukraina, diluar kota Kiev, ketika perang dimulai.
Ukraina mengklaim 5 jenderal Rusia lainnya telah tewas, namun belum mendapat konfirmasi dari pihak Rusia.
Ukraina bahkan mengklaim telah menewaskan Jenderal Mogamed Tushaev, komandan pasukan keamanan dalam negeri Republik Chechniya.
Ia dikirim oleh Ramzan Kaydirov untuk membantu Rusia sekaligus memimpin pasukan khusus untuk membunuh Presiden Ukraina.
Kaydirov membantah berita dengan menunjukkan video pertemuannya dengan Tushvaev, yang diragukan banyak pihak.
Video tandingan juga telah tersebar yang menunjukkan bagaimana Tushvaev terbunuh dalam iringan perjalanan bersama pasukannya keluar dari airport Antonov, Kiev.
Apakah fenomena yang terjadi dalam beberapa hari ini, seperti Putin tidak lagi ngotot ganti rezim Zeleinsky yang pro Barat di Ukraina, surutnya penyerangan besar-besaran ke ibu kota Kiev, benar sebagai indikasi kekalahan.
Apakah hal itu, berikut engan kembalinya tentara Ukraina menguasai kota Kherson bagian Utara, yang beberapa waktu yang lalu dikuasai Rusia, sebagai konfirmasi atas tewasnya banyak pasukan, tewasnya sejumlah jenderal, dan bertaburan dan rontoknya ratusan tank Rusia di Ukraina juga sebagai bukti kekalahan atau kelemahan Rusia?
Apakah mobilisasi dan pengalihan pasukan Rusia dari daerah lain ke kawasan Luhansk dan Donbass adalah cermin dari “indikasi kekalahan” Rusia.
Apakah kedua kawasan, yang sebagian penduduknya berbahasa Rusia dan berbatasan dengan Rusia, melepaskan diri dari Ukraina dan diakui oleh Rusia sebagai Republik merdeka, hanya sebagai taktik ataukah batas minimum keinginan Rusia?
Yang pasti Putin belum memberikan komentar dan ia cukup dingin tentang hal itu. Ataukah dia sedang mempersiapkan langkah lain, yang mungkin saja penggunaan senajata nuklir?
Sembilan dari sepuluh pengamat nuklir global, mulai dari jenderal pensiun, perwira tinggi intelijen, ilmuwan nuklir, pejabat sipil urusan nuklir terkemuka, dan pengamat senior Rusia, menyatakan kecil kemungkinan Putin akan menggunakan nuklir dalam perang Ukraina.
Mereka semua berpendapat bahwa Putin adalah sosok rasional yang tahu dan ingin namanya tidak tercatat buruk dalam sejarah kemanusiaan.
Namun itu hanya pendapat sebagian, karena sebagian yang lain berpendapat Putin mungkin saja memerintahkan Shergei Shogu-Menteri Pertahanan Rusia untuk meluncurkan rudal nuklir dari kapal selam atau silo bawah tanah Rusia pada saat yang tak terduga.
Lebih-lebih, jika memang Rusia terdesak, dan Putin dipermalukan oleh Barat, dia bisa saja kehilangan kontrol.
Itulah sebabnya pernyataan Presiden AS, Joe Biden di Brusel baru-baru ini yang melihat surutnya Rusia dari sejumah titik penting pertempuran di Ukraina dengan statemen seruan untuk “pergantian rezim” di Rusia membuat Biden dikecam habis-habisan, walaupun sebagian kalangan di AS setuju.
Baca juga: Putin Bisa Saja Luncurkan Bom Nuklir Bila Terancam, Berikut Daftar Kekuatan Senjata Nuklir di Dunia
Inggris dan sejumlah negara-negara Eropa cepat-cepat menarik diri dari statemen Biden itu.
Kecaman dan penyesalan juga datang berbagai pengamat Rusia dan tokoh-rokoh penting AS dan dunia.
Dengan kecaman itu, pemerintah AS segera merevisi pernyataan Biden melalui Menlu Anthony Blinken.
Di dalam pernyatanannya Blinken menyebutkan itu hanya spontanitas Biden, dan sama sekali tidak dimaksudkan sebagai intervensi terhadap kedaulatan Rusia.
Urusan pergantian rezim atau bukan, kata Blinken, sepenuhnya berada pada rakyat Rusia.
Lagi-lagi bila Putin sangat terdesak, seorangpun tidak dapat menduga apa yang akan dia lakukan.
Lilia Shevtsova, wanita Rusia yang juga Kremlinologis yang saat ini menetap di Inggris sebagai ahli Rusia pada Chattam House London, beberapa tahun yang lalu menulis ( American Interest 2016) sebagai Master of Suspense- sang Piawai pembuat ketegangan dan kerisauan.
Dalam bahasa kita sehari-hari ketegangan dan kerisauan melihat Putin adalah sama ibaratnya dengan menonton film suspense dari cerita novel Alfred Hitchcock, Notorious yang membuat napas tertahan, dan desahan dag dig dug penontionnya.
Hal itu menjadi bertambah dengan sifatnya yang semakin nyata akhir-akhir ini yang tidak peduli dengan kredibilitas, reputasi dan ucapan orang lain.
Akhirnya adalah cukup baik juga untuk membaca wawancara penulis AS kelahiran Inggris dengan beberapa media tentang perang Ukraina, Fiona Hill penulis buku Mr Putin; The New Tsar (2018).
Wanita peraih Doktor Sejarah dar Universitas Harvard ini bekerja pada berbagai lembaga Think Tank di AS dan staf pada Dewan Keaman Nasional AS.
Fiona juga pernah menjadi penasehat khusus Rusia untuk Presiden Bush, Obama, dan kemudian beberapa bulan melayani Trump, mengingatkan untuk berhati-hati dengan Putin.
Ia menyatakan dengan nada suara tinggi ketika wawancara dengan radio Ezra Klein tentang topik senjata nuklir (The New York Times, Maret 2022) dan wawancara tertulis majalah Politico (2022)
Hill menyebutkan bagi Putin, kalau dia punya instrumen-dalam hal ini nuklir, dia akan menggunakannya, terutama kalau ia tersudut.
Ia menyebut kasus terbunuhnya Alexander Litvinenko, perwira intelijen Rusia yang menyeberang ke Barat di Inggris.
Litvinenko mati setelah minum teh di salah satu restoran di London. Di mulai dengan muntah-muntah, akhirnya ia mati tiga minggu kemudian.
Otopsi kematian menyebutkan ia terkena racun nuklir polonium -210 yang dibawa dari reaktor nuklir Sarov dari pergunungan Ural Rusia.
Pengadilan HAM Eropa-ECHR dalam penyedlidikannya menyalahkan pemerintah Rusia karena terlibat dalam pembunuhan itu.
Racun itu tak tampak dengan mata telanjang dan terselip dalam mangkuk Litvinenko.
Baca juga: Soal Potensi Penggunaan Senjata Nuklir, Juru Bicara Kremlin Ungkap Bisa Diluncurkan Saat Kondisi Ini
Dua agen Rusia yang tertangkap dalam rekaman CCTV, Andrei Lugarov dan Dmitry Kovtun dan beberapa orang lainnya diduga terkait dengan kejadian itu.
Terakhir lembaga penyelidik domestik Inggris Scotland Yard mengkonformasi hal itu.
Putin tak bergeming dengan kejadian itu, dan memang Alexander Litvinenko adalah agen yang tahu terlalu banyak, termasuk tahu banyak tentang Putin dan berbagai kroninya.
Bertahun-tahun ia membiarkan Litvinenko, sampai kemudian Litvinenko mulai membongkar sebagian kecil rahasia Putin.
Ia terdesak, dan yang dipakai adalah racun radio aktif dari reaktor nuklir oleh agen Andrei Lugarov dan Dmitry Kovtun
Kalau benar Rusia terdesak, apalagi kalah, sebaiknya Joe Biden dan kawan-kawannya berhati-hati dan belajar dari kasus Alexander Litvinenko.
Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XV) - Kinzhal, Mie Razali, Canai Mamak, dan Stringer
Jangan permalukan Putin secara kolosal, apalagi dramatis. Seperti kata Fiona Hill, ibarat pembajakan, Putin telah membajak dunia, dan kini yang diculik dan ditangannya adalah senjata Nuklir.
Dia menggunakan nuklir taktis saja, Ukraina dan negara-negara tetangganya bisa kiamat.
Bayangkan kalau dia memang benar-benar kalap dan membuat suspense, lalu melepas beberapa hulu ledak rudal nuklir antar benua ,Tsar Bomba yang mempunyai kekuatan daya ledak 3.300 kali lebih dari yang dijatuhkan AS di di Hiroshima pada Agustus.(*)
*) Penulis adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala
KUPI BEUNGOH adalah rubric opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis
BACA ARTIKEL KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ahmad-humam-hamid_sosiolog-guru-besar-universitas-syiah-kuala_ai.jpg)