Breaking News:

Opini

Mengkritisi Kurikulum Merdeka

Terutama bagi mereka yang kemarin mencermati berbagai masalah yang kita kritisi pasca pemberlakuan Kurikulum Prototipe, yang kita kenal sekarang

Editor: bakri
Mengkritisi Kurikulum Merdeka
FOR SERAMBINEWS.COM
HANIF SOFYAN Pegiat Literasi, Trainer, Dosen Lepas Universitas Ar-Raniry

OLEH HANIF SOFYAN,  Pegiat Literasi, Trainer, Dosen Lepas Universitas Ar-Raniry

PERHELATAN UTBK-SBMPTN 2022, menjadi isu menarik.

Terutama bagi mereka yang kemarin mencermati berbagai masalah yang kita kritisi pasca pemberlakuan Kurikulum Prototipe, yang kita kenal sekarang sebagai Kurikulum Merdeka.

Dimana daya tariknya? Banyak argumen bermunculan mengkritisi Kurikulum Merdeka, sebagai sebuah solusi memutus mata rantai, lingkaran setan kesalahan kita dengan kurikulum 2013, yang memuat dikotomi penjurusan IPA-IPS di sekolah yang membuat bias, antara kecerdasan dan bakat-minat.

Termasuk Ujian Nasional (UN), yang justru menjadi momok karena “nilai” menjadi pengukur kecerdasan.

Kematangan mentalitas lulusan SMU ketika memasuki dunia Perguruan Tinggi terabaikan gara-gara “nilai”.

Pilihan yang tidak linier dengan kemampuan sesungguhnya ketika kuliah, karena kesalahan penjurusan.

Sistem belajar dan pembelajaran di sekolah yang sebagian metodenya masih cenderung konvensional dengan ceramah.

Sehingga penguatan karakter, kemampuan adaptasi, implementasi materi pembelajaran dengan kehidupan keseharian menjadi tidak nyambung.

Kita sejak lama dihantui problem link and match.

Ketidaksiapan lulusan SMU dan PT masuk dalam dunia kerja.

Baca juga: Perkuat Program Kurikulum Merdeka, FKP Unsyiah Jalin Kerjasama dengan DKP Aceh

Baca juga: Praktik Mengajar ala Kurikulum Merdeka

Tambahan pekerjaan rumah baru, dengan loss learning, ketika kurikulum darurat sekolah tidak siap menjadi “pelampung” bagi dunia pendidikan kala pandemi.

Pembentukan karakter menjadi buntu dengan sistem belajar daringmeskipun itu tuntutan protokol kesehatan.

Bahkan, kemampuan menguasai materi pelajaran reguler--pelajaran yang umum di pelajari seperti sebelum pandemi--agama, sosial, sains, mengalami kemunduran mutu.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved