Breaking News:

Opini

Pindah dari Takdir ke Takdir

DALAM upaya memilih takdir, disebutkan bahwa Khalifah Umar bin Khattab Ra, pernah kedatangan tamu dari dusun (seorang badui)

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Prof Dr Al Yasa’ Abubakar MA, Guru Besar UIN Ar-Raniry 

Seolah-olah Khalifah Umar ingin berkata, engkau harus memilih takdirmu dan jangan salahkan Allah kalau engkau keliru memilih takdir.

Menurut para ulama ada takdir yang dapat dipilih (misalnya bidang pendidikan dan pekerjaan) dan ada yang tidak dapat dipilih (misalnya orang tua).

Dalam kehidupan sehari-hari banyak pernyataan yang tidak sempurna mengenai takdir, sehingga dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Ketika sebuah musibah terjadi kita sering mendengar pernyataan “Sabar.

Sudah takdir Allah.

Kita ambil hikmahnya.

Kita pulangkan kepada Yang Di Atas.

” Seolah-olah kalau sesuatu yang buruk terjadi, atau sesuatu terjadi tidak seperti yang kita harapkan maka hal itu terjadi karena adanya “campur tangan Tuhan”.

Sebaliknya kalau yang terjadi itu sesuatu yang baik, atau terjadi sesuai dengan rencana dan harapan kita, maka “campur tangan Tuhan tidak perlu dihiraukan atau disebut-sebut”.

Seolah-olah kalau yang terjadi itu yang buruk-buruk, yang tidak diharapkan maka itu disebut karena campur tangan (takdir).

Sebaliknya kalau yang terjadi itu yang baik-baik, yang sesuai dengan harapan, maka tidak masuk ke dalam takdir.

Hal yang baikbaik dianggap sebagai hasil usaha manusia “yang tidak dicampuri oleh Tuhan,” sedang sesuatu yang buruk yang tidak diharapkan, maka hal itu terjadi “karena ada campur tangan Tuhan atas rencana dan usaha manusia” (oleh sebagian orang disebut takdir).

Menurut penulis pemahaman seperti ini dapat disebut keliru tentang takdir Allah SWT.

Seperti dikatakan Umar Ra di atas, manusia tidak dapat lari dari takdir Allah SWT.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved