Jurnalisme Warga
Santri Aceh Jalani Ramadhan di Amerika
ALHAMDULILLAH, sebagai santri Dayah Modern Darul Ulum, Banda Aceh, saya memenangi beasiswa program pertukaran pelajar KL-YES.
OLEH JAZIL MUBARAK, Santri Dayah Modern Darul Ulum, Banda Aceh, melaporkan dari California, Amerika Serikat
ALHAMDULILLAH, sebagai santri Dayah Modern Darul Ulum, Banda Aceh, saya memenangi beasiswa program pertukaran pelajar KL-YES.
Saya mendapatkan placement di Paradise, California, Amerika Serikat.
Sebuah desa di atas bukit yang merupakan tempat terjadinya CampFire pada 2018 silam.
Meski sudah berlalu tiga tahun, proses pembangunan ulang masih dilakukan.
Masih banyak tempat umum seperti McDonald, Burger King, dan lain-lain yang belum dibangun kembali.
Biasa kami berbelanja di Chico, kota kecil sekitar 30 menit dari Paradise.
Di sini saya di-host oleh keluarga Amerika yang sangat baik.
Mereka menjadi relawan menyediakan rumah untuk siswa pertukaran pelajar seperti saya yang padahal mereka tidak kenal sama sekali.
Ada juga siswa pertukaran pelajar dari Italia yang bernama Niki, dia ikut tinggal bersama keluarga ini.
Setelah tinggal di Amerika selama beberapa bulan, akhirnya tiba saat yang paling menantang bagi seorang muslim, yaitu Ramadhan.
Baca juga: Tiga Santri Dayah Madrasatul Quran Selesaikan Hafalan 30 Juz
Baca juga: AHY Sapa Santri dan Berburu Takjil di Aceh, Annisa Pohan Disambut Riuh Santriwati
Untungnya tahun ini puasa jatuh di musim semi.
Waktu berpuasa berkisar sekitar 14 jam, dari pukul 05.30 sampai dengan 19.40 dan terus bertambah tiga menit setiap harinya.
Pada saat saya menulis ini, puasa dimulai sejak 05.00 sampai dengan 19.53.
Ini karena, durasi siang semakin panjang seiring memasuki musim panas.
Belum pernah saya dengar azan berkumandang di sini.
Meskipun demikian, saya biasa melihat jadwal shalat di aplikasi Muslim Pro yang sangat membantu.
Di saat seperti ini terkadang saya rindu suasana berpuasa bersama dengan keluarga di Aceh karena di sini semua bergantung pada diri kita sendiri.
Terutama waktu sahur.
Keseringan saya kesiangan dan berpuasa tanpa sahur.
Terkadang Niki yang membangunkan saya ketika alarm saya berbunyi.
Saya biasanya sahur dengan sereal atau makanan makan malam yang saya panaskan kembali setelah masuk kulkas.
Saya tidak suka memasak dan lebih memilih jalan mudah saja.
Pernah satu hari saya tantang Niki untuk ikut berpuasa dengan saya.
Dia berhasil menyelesaikan puasa sampai berbuka.
Ketika saya tantang untuk kedua kalinya ia menolak dan berkata “sekali saja cukup”.
Untuk berbuka biasanya saya makan menu makan malam keluarga.
Pada awal Ramadhan saya masih sempat berbuka bersamaan dengan waktu makan malam.
Namun, seiring waktu terbenam matahari semakin lama, saya keseringan makan sendirian sesudah makan malam keluarga.
Kegiatan sehari-hari saya adalah bersekolah.
Ini tentunya berbeda dengan sekolah di Indonesia yang biasanya diliburkan selama Ramadhan.
Kegiatan sport akan sangat menantang di saat seperti ini.
Tentu saja karena kita tidak bisa minum meskipun gerah setelah berolahraga.
Begitu juga jika ada kegiatan di luar rumah.
Pernah pada satu hari saya menonton NBA bersama Niki.
Kebetulan permainannya di saat berbuka puasa.
Niki tak mau meninggalkan tempat duduk saat pertandingan berlangsung.
Untung saya membawa snack dalam kantong untuk jaga-jaga saat berbuka puasa.
Beberapa hari yang lalu juga merupakan hari Easter.
Jadi, keluarga besar kami mengadakan pesta makan bersama memperingati kebangkitan Yesus Kristus.
Saya seorang yang tidak makan.
Namun, keluarga menyimpan makanan untuk saya saat berbuka nantinya.
Begitu pula ketika saya pergi bersama kawan-kawan.
Ketika jam makan siang mereka akan berhenti makan di rumah makan terdekat.
Mereka tidak memaksa saya untuk ikut makan, justru mereka merasa tidak nyaman makan ketika ada temannya yang tidak bisa makan.
Masjid terdekat dari tempat saya ada di Chico, tepatnya Chico Islamic Center.
Sekitar satu jam dari tempat saya.
Dikarenakan jarang sekali ada bus di Paradise, saya sangat kesulitan untuk ke masjid.
Saya hanya bisa berharap kepada keluarga untuk memberi tumpangan.
Namun, sering kali mereka sibuk sehingga saya tidak bisa ke masjid.
Selama tinggal di Amerika baru satu kali saya sempat ke masjid untuk shalat Jumat.
Untuk Tarawih, saya hanya shalat di kamar sendiri setiap malam.
Tentu rasa Tarawih sendiri sangat berbeda dengan shalat berjamaah.
Kebanyakan saudara muslim juga tinggal di daerah Chico daripada Paradise.
Biasanya setiap hari Sabtu mereka mengadakan pesta buka puasa bersama di masjid.
Sabtu ini adalah kali pertama saya pergi dan ikut iftar bersama di Islamic Center Chico.
Karena kebetulan ‘host sister’ saya bersedia mengantar dan menjemput.
Padahal, hari itu kesibukannya begitu padat.
Kebetulan sedang ada Festival Golden Nugget, memperingati hari ditemukannya emas di Paradise.
Saya ikut membantu membangun tenda di festival sebagai volunteer.
Kami juga memiliki tenda sendiri yang menyediakan informasi mengenai pertukaran pelajar.
Setelah itu saya pergi menghadiri pesta guru saya.
Tentunya bukanlah hal yang baik menolak memenuhi undangan orang.
Saya tetap berhadir ke pesta tersebut meskipun tidak bisa makan atau minum.
Meskipun hari begitu panas dan orang makan dan minum di sekitar, tapi saya manyakinkan diri untuk bertahan beberapa jam lagi hingga tiba waktu berbuka puasa.
Selepas pesta itu kami menuju masjid.
‘Host sister’ saya menunggu sampai saya masuk ke dalam masjid baru kemudian ia pergi ke restoran terdekat untuk makan malam sebelum kembali lagi untuk menjemput saya nanti.
Padahal, Islamic Center ini juga begitu terbuka untuk nonmuslim yang ingin ikut makan bersama.
Namun, ia merasa tidak nyaman, terlebih ia tidak mengenal serorang pun muslimah di Chico.
Saya begitu bahagia ketika bisa pergi ke masjid lagi.
Saya merasa begitu tenang dan nyaman begitu melangkahkan kaki masuk ke dalam masjid.
Walau bangunannya sederhana, tapi rasanya lebih indah daripada hotel berbintang sekalipun.
Pengurus masjid akan memasak beberapa menu berbuka.
Jamaah sendiri dianjurkan untuk membawa menu berbuka dalam rangka berbagi kepada sesama.
Suasana berbuka di sini membuat saya begitu rindu pada tanah air.
Makanan ringan untuk iftar sudah ditata dengan rapi di dalam masjid.
Jamaah datang, mengucap salam kepada sesama, lalu duduk sambil menunggu azan.
Sesudah berbuka, dilanjutkan dengan shalat Magrib, baru kemudian jamaah melanjutkan dengan makan yang sebenarnya.
Semua dipersiapkan pengurus masjid.
Jamaah mengantre mengambil makanan layaknya kenduri di Aceh karena kebanyakan muslim di daerah Chico adalah orang Pakistan sehingga menu makanan juga adalah makanan Pakistan.
Bagi saya, pengalaman berpuasa di Amerika sangatlah berbeda.
Banyak kegiatan Ramadhan yang biasanya saya lakukan bersama teman teman selama Ramadhan tidak bisa saya lakukan tahun ini.
Seperti ngabuburit, safari masjid, dan tadarus di masjid setiap malam.
Namun, kesempatan ini juga bagi saya adalah sarana mengukur keimanan kepada Allah.
Kita mungkin tidak sadar ketika berada di lingkungan muslim, tetapi akan sangat terasa keislaman kita saat kita tinggal di tempat mayoritas nonmuslim.
Persaudaraan di antara muslim di Chico juga sangat kuat.
Kata “minoritas” membuat kami merasa semakin dekat.
Meskipun kami belum pernah berjumpa sama sekali sebelumnya.
Namun, kami sadar, meskipun kita bukan saudara secara biologis, kami adalah saudara seiman.
Saudara di sisi Allah ta’ala.
Baca juga: 150 Santri di Aceh Utara Ikut Program 20 Hari Bersama Alquran, Dalam Kampoeng Alquran Angkatan III
Baca juga: Tiga Santri di Pidie Ditetapkan Sebagai Tersangka, Kasus Penganiayaan Anak Dibawah Umur
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/JAZIL-MUBARAK-melaporkan-dari-California-Amerika-Serikat.jpg)