Sabtu, 30 Mei 2026

Kupi Beungoh

Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XXII) - Jokowi, CPO, dan “Penyakit Ukraina”

Ambil contoh keputusan tiba-tiba Presiden Jokowi mengeluarkan kebijakan larangan ekspor CPO beserta turunannya beberapa hari yang lalu

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Segera nama Indonesia, dan bahkan Presiden Jokowi membahana mulai dari pejabat negara, media, sampai rakyat kecil di pelosok negara-negara itu.

Pasalnya, kebutuhan pokok, minyak makan,-terutama rakyat kecil, telah menjadi krisis nasional mereka.

Padahal, penderitaan itu telah dan sedang dialami oleh rakyat Indonesia, negara pemasok utama CPO ke pasar global yang secara sangat tragis mengalami kenaikan harga dan kelangkaan minyak goreng.

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XIX) - Stratak Putin, PAHE, dan Cot Kafiraton

Kenapa Indonesia mengalami tragedi juga sangat mudah untuk dimengerti.

Rusia dan Ukraina adalah pemasok lebih dari dua petiga kebutuhan minyak bunga matahari untuk pasar global- Ukraina, 46 persen, Rusia 23 persen.

Minyak bunga matahari berada pada posisi ke 4 dari jumlah kebituhan total minyak makan global.

Konsumsi minyak makan global didominasi oleh minyak kelapa sawit 36 persen, minyak kedele 25,5 persen, rape and mustard 11,3 persen, minyak bunga matahari 9 persen, dan selebihnya antara 0.6- 2,5 persen terdiri dari minyak zaitun, minyak wijen, minyak kelapa, minyak kacang tanah, dan minyak biji katun.

Segera setelah perang Ukraina terjadi, pasar mulai terminas, bahkan panik.

Dalam hal minyak goreng di Indonesia, kesempatan itu diambil dengan sangat cepat oleh beberapa kalangan yang ingin menangguk untung besar.

Apakah ini refleksi dari kegagalan atau kesalahan pemerintah, yang pasti kejadian di Ukraina telah memberi sebuah “pukulan telak” dan bahkan menjadi tragedi besar pemerintahan Jokowi.

Tidak hanya dalam konteks minyak goreng, perang Ukraina telah pula mengacaukan semua negara, baik kaya maupun miskin, terutama yang berkaitan dengan penggunaan sumberdaya alam kedua negara.

Komoditi pertanian dan energi kini mulai merasuk dan mulai menggerogoti perdagangan internasional yang dicirikan dengan kelangkaan komoditas, kenaikan harga yang meroket, dan ketidak pastian akhir dari tragedi Ukraina itu sendiri.

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XVI) - Peringatan Untuk Biden, Putin, dan Tsar Bomba 50 Megaton

Satu hari yang lalu, pelaku militer dan Sekjen NATO-Jens Stoltenberg, pada acara pertemuan puncak pemuda negara-negara angota NATO di Brusel menyebutkan Perang Ukraina sangat berpeluang untuk terus berlanjut, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Itu artinya, selama Rusia masih terus berkeingan untuk melanjutkan perang, ditambah dengan kelanjutan perlawanan tentara dan rakyat Ukraina yang dibantu oleh NATO, awan gelap bencana akan terus menganggu masyarakat global, baik secara politik, apalagi ekonomi.

Berbagai prediksi telah menyebutkan inflasi global yang telah terjadi, akan semakin lebih hebat lagi menggelinding jika perang tidak berhenti.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved