Jurnalisme Warga
Arungi 13 Sungai, Pengalaman Menantang ke Atu Kapur
AIR Terjun Sijuk (Atu Kapur) merupakan objek wisata yang tersembunyi, berada di tengah hutan belantara wilayah pendalaman Alue Ie Mirah
Si kakek bercerita dan juga menyampaikan sedikit peraturan.
Ia bercerita mengenai air terjun itu dalam konteks dulu dengan sekarang.
Dulu, Air Terjun Atu Kapur tidak pernah longsor seperti sekarang.
Si kakek beranggapan bahwa longsor tersebut diakibatkan kemaksiatan para pengunjung yang bukan nonmahram dan kerusakan lingkungan air terjun diakibatkan pengunjung tidak menjaga kebersihan.
Kakek memberikan wejangan kepada pengunjung dengan mengatakan, "Hutan ini milik kita bersama.
Jika hutan ini tidak kita jaga, maka kita juga yang akan mengalami akibat ke depannya.
” Selain itu, sang kakek mempersyaratkan: setiap yang datang dan menginap di sana tidak boleh membuang sampah sembarangan dan sampah harus dikumpulkan supaya tidak mengotori sungai.
Selain itu, kakek juga mengatakan di atas air terjun ada tapak aulia, di mana air tersebut akan menjadi obat.
Sang kakek juga menasihati, yaitu jika pengunjung perlu air itu tergantung pada niat, jika niatnya buruk, maka pengunjung akan mengalami tantangan seperti hadirnya seekor harimau.
Kakek ini juga bercerita bahwa pada tahun 2016 di lokasi air terjun tersebut dilaksanakan kenduri dengan tujuan berdoa agar air terjun dan hutan di sekitarnya tetap terlindungi.
Selain itu, kami juga bertanya kepada si kakek terkait tenaga listrik, segi makanan, dan awalnya ia tinggal di tengah- tengah hutan, berlokasi dengan Air Terjun Atu Kapur tersebut.
Tenaga listrik yang digunakan oleh kakek ialah tenaga surya dengan memanfaatkan sinar matahari dan dari segi makanan kakek menanam tumbuh-tumbuhan seperti pohon pinang, padi hutan, dan untuk bahan bakar kakek memanfaatkan rantingranting pohon di sekitar.
Singkat cerita, alasan kakek tinggal di tengah hutan beliau merasa nyaman, karena sebelumnya beliau juga tinggal di Kampung Sijuk, tetapi beliau selalu sakit.
Lalu beliau memilih untuk meninggalkan Kampung Sijuk dan memilih tempat lain dan pada akhirnya beliau bermukim di tengahtengah hutan.
Alhamdulillah, semenjak tinggal di tengah-tengah hutan beliau merasakan kenyamanan dan sakit beliau pun mulai pulih.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/MAULYUNDIRA-HUSMA-Mahasiswi-Pendidikan-Bahasa-Indonesia-Anggota-UKM-Jurnalisti.jpg)