Kamis, 28 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Arungi 13 Sungai, Pengalaman Menantang ke Atu Kapur

AIR Terjun Sijuk (Atu Kapur) merupakan objek wisata yang tersembunyi, berada di tengah hutan belantara wilayah pendalaman Alue Ie Mirah

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
MAULYUNDIRA HUSMA,  Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia & Anggota UKM Jurnalistik UBBG Banda Aceh, serta Anggota FAMe, melaporkan dari Alue Ie Mirah, Kecamatan Indra Makmu, Aceh Timur 

OLEH MAULYUNDIRA HUSMA,  Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia & Anggota UKM Jurnalistik UBBG Banda Aceh, serta Anggota FAMe, melaporkan dari Alue Ie Mirah, Kecamatan Indra Makmu, Aceh Timur

AIR Terjun Sijuk (Atu Kapur) merupakan objek wisata yang tersembunyi, berada di tengah hutan belantara wilayah pendalaman Alue Ie Mirah, Kabupaten Aceh Timur.

Objek wisata ini sangat jarang dikunjungi masyarakat.

Juga sangat jarang terjamah tangan manusia.

Padahal, air terjun ini memiliki potensi besar untuk dijadikan objek wisata alami dan bisa dijadikan sumber pendapatan baru bagi masyarakat maupun pemerintah setempat.

Air Terjun Sijuk (Atu Kapur) memiliki potensi wisata yang masih jarang terjamah.

Maklum, untuk menuju lokasi ini pengunjung harus melalui jalur sulit (ekstrem).

Air terjun ini tergolong unik, karena air yang mengalir atau turun dari air terjun ini bertemu dengan air Sungai Sijuk.

Air terjun ini juga mengandung air batu kapur, berada di Gampong Sijudo, Kecamatam Pante Bidari.

Baca juga: Warga Seumanah Jaya Aceh Timur Temukan Objek Wisata Air Terjun Bukit Seribu

Baca juga: Bappeda Agara Akan Jadikan Tiga Benteng Rakyat Alas Melawan Belanda Sebagai Objek Wisata Sejarah

Pemandangan di lokasi Air Terjun Sijuk ini membuat saya takjub luar biasa.

Saya merasa sangat senang dan gembira ketika mendengar sebuah tempat wisata yang sangat menarik, bagus, dan butuh perjuangan ekstrem untuk mencapainya.

Perjalanan menuju wisata Air Terjun Atu Kapur ini menghabiskan waktu sekitar 3 jam 45 menit dengan jarak tempuh 26 kilometer dari Desa Alue Ie Mirah, Kecamatan Indra Makmue, Aceh Timur.

Perjalanan yang sangat menantang.

Untuk mencapai lokasi Air Terjun Atu Kapur ini ada 18 kilometer ruas jalan yang bisa dilalui dengan mengendarai sepeda motor.

Itu pun ruas jalan yang berbatu.

Setelah sampai 18 kilometer, para pengunjung harus menyimpan kendaraan di sungai kedua di sebuah gubuk.

Itu karena sepeda motor tidak dapat dikendarai untuk melintasi 13 sungai yang memiliki kedalaman 1 hingga 2 meter.

Namun, para pengunjung haru menerobos 13 sungai dangkal dengan cara berjalan kaki.

Untuk menuju lokasi Air Terjun Sijuk ini dari Desa Alue Ie Mirah, pusat Kecamatan Indra Makmu, harus dilalui dengan kendaraan roda dua jenis trail dan kendaraan roda empat jenis jeep.

Dalam perjalanan menerobos 13 sungai, hadir sebuah tantangan yang baru, yaitu air sungai mengalir begitu deras dan memiliki kedalaman 1 hingga 2 meter.

Para pengunjung mempersiapkan sebuah tali untuk menyeberangi sungai dengan tujuan agar tidak hanyut saat menyeberang.

Setelah sampai ke tujuan kami lihat ada sebuah rumah yang berdekatan dengan air terjun.

Hanya berjarak 50 meter.

Kami pun langsung mencari lokasi untuk mendirikan sebuah tenda.

Begitu selesai mendirikan tenda, kami langsung mengunjungi rumah tersebut untuk bersilaturahmi dengan penghuninya serta minta izin kemping di halaman rumahnya.

Para pengunjung memanggil kepala keluarga tersebut dengan sebutan kakek dan selama ini beliaulah yang menghuni desa tersebut.

Sekaligus beliau pula yang menjaga keasrian Air Terjun Sijuk tersebut.

Selama ini sang kakek menerima siapa pun yang berkunjung ke sana, asalkan tidak melakukan aktivitas yang merusak keasrian Air Terjun Sijuk.

Juga tidak bermaksiat.

Di rumah ibu ada kakek dan istrinya serta cucunya.

Si kakek bercerita dan juga menyampaikan sedikit peraturan.

Ia bercerita mengenai air terjun itu dalam konteks dulu dengan sekarang.

Dulu, Air Terjun Atu Kapur tidak pernah longsor seperti sekarang.

Si kakek beranggapan bahwa longsor tersebut diakibatkan kemaksiatan para pengunjung yang bukan nonmahram dan kerusakan lingkungan air terjun diakibatkan pengunjung tidak menjaga kebersihan.

Kakek memberikan wejangan kepada pengunjung dengan mengatakan, "Hutan ini milik kita bersama.

Jika hutan ini tidak kita jaga, maka kita juga yang akan mengalami akibat ke depannya.

” Selain itu, sang kakek mempersyaratkan: setiap yang datang dan menginap di sana tidak boleh membuang sampah sembarangan dan sampah harus dikumpulkan supaya tidak mengotori sungai.

Selain itu, kakek juga mengatakan di atas air terjun ada tapak aulia, di mana air tersebut akan menjadi obat.

Sang kakek juga menasihati, yaitu jika pengunjung perlu air itu tergantung pada niat, jika niatnya buruk, maka pengunjung akan mengalami tantangan seperti hadirnya seekor harimau.

Kakek ini juga bercerita bahwa pada tahun 2016 di lokasi air terjun tersebut dilaksanakan kenduri dengan tujuan berdoa agar air terjun dan hutan di sekitarnya tetap terlindungi.

Selain itu, kami juga bertanya kepada si kakek terkait tenaga listrik, segi makanan, dan awalnya ia tinggal di tengah- tengah hutan, berlokasi dengan Air Terjun Atu Kapur tersebut.

Tenaga listrik yang digunakan oleh kakek ialah tenaga surya dengan memanfaatkan sinar matahari dan dari segi makanan kakek menanam tumbuh-tumbuhan seperti pohon pinang, padi hutan, dan untuk bahan bakar kakek memanfaatkan rantingranting pohon di sekitar.

Singkat cerita, alasan kakek tinggal di tengah hutan beliau merasa nyaman, karena sebelumnya beliau juga tinggal di Kampung Sijuk, tetapi beliau selalu sakit.

Lalu beliau memilih untuk meninggalkan Kampung Sijuk dan memilih tempat lain dan pada akhirnya beliau bermukim di tengahtengah hutan.

Alhamdulillah, semenjak tinggal di tengah-tengah hutan beliau merasakan kenyamanan dan sakit beliau pun mulai pulih.

Air Terjun Atu Kapur yang memiliki tinggi 17 meter ini memiliki panorama yang sangat luar biasa indahnya.

Kami para pengunjung, melakukan suatu program yaitu bergotong royong agar pemandangan air terjun lebih nyaman saat kita pandang.

Selain itu, di dasar Air Terjun Atu Kapur juga memiliki berbagai jenis ikan air tawar Kami para pengunjung memancing ikan pada sorenya dan menembak ikan pada malam hari.

Saran saya untuk pengunjung Air Terjun Atu Kapur, jangan lupa membawa perlengkapan seperti parang, tali, dan bekal ketika kemping di lokasi air terjun tersebut.

Dua peralatan, parang dan tali, sangat penting di saat kalian menghadapi perjalanan di sungai dan hutan yang kalian lewati nantinya.

Ke depan, hendaknya tempat wisata Air Terjun Atu Kapur ini selalu dipromosikan oleh para pengunjung agar masyarakat mengetahuinya, menjaga kebersihan lingkungan agar alam tetap terjaga, damai, semoga hutan di kawasan Air Terjun Sijuk ini tetap lestari dan terjaga dan tidak ada perusakan oleh manusia serakah yang memanfaatkan untuk mengambil kayu.

Dengan potensi wisata tersebut, seharusnya pemerintah membangun akses jalan agar masyarakat juga mudah dan sampai menuju ke lokasi air terjun.

Jadi, tidak hanya para pecinta wisata ekstrem saja yang bisa mengunjungi lokasi air terjun yang eksotik ini.

Baca juga: Sempat Dikeluhkan Pengunjung, Dinas Pariwisata Panggil Pengelola Objek Wisata Kolam Biru Rerebe

Baca juga: Berpotensi Jadi Objek Wisata di Bener Meriah, TNI Kembali Gotong Royong Bersihkan Bukit Merah Putih 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved