Kamis, 7 Mei 2026

Opini

KKN, Kasim Arifin Reborn?

KKN yang turut dikolaborasikan bersama tiga kampus negeri lainnya di Aceh yakni Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, Universitas Malikussaleh

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr MUHAMMAD YASAR STP MSc,  Dosen Tetap Program Studi Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala 

KA adalah sosok yang unik, sejak kemunculannya hingga hari ini belum ada yang mampu menyamainya.

Ia sangat berbeda dengan teman-teman seangkatannya bahkan juga dipastikan berlainan dengan seluruh mahasiswa yang pernah ber- KKN.

Lazimnya ketika jadwal KKN berakhir, semua peserta pasti akan langsung pulang kembali ke kampus untuk melanjutkan tugas akademik lainnya, yang kalau dalam istilah tentara “kembali ke barak”.

Namun KA justru memilih desersi untuk melanjutkan misi mulianya.

Mengajar dan membimbing masyarakat dalam meningkatkan hasil tani dan ternaknya menjadi agenda utama KA.

Ia membangun kemandirian petani agar tidak bergantung kepada bantuan pemerintah.

Menginisiasi pembangunan prasarana desa seperti jalan, sawah, dan irigasi, semuanya secara swadaya dan bergotong royong bersama masyarakat, tanpa satu rupiah pun menggunakan anggaran pemerintah.

Di tengah ketimpangan pembangunan yang belum pernah ada usainya, tentu sosok seperti KA senantiasa diharapkan terjelma di setiap pelaksanaan KKN.

Sikap kerelawanan dengan kesholehan sosial seperti dicontohkan Dosen Fakultas Pertanian USK ini mustahak dibutuhkan apalagi di era erupsi yang terlanjur menghadiahkan kita generasi online seperti sekarang ini.

Belakangan harus kita akui memang ada banyak cerita kontradiktif dengan kisah KKN KA.

Jika di era KA kehadiran mahasiswa KKN begitu ditunggu dan didambakan, sekarang tidak sedikit desa yang justru enggan menerima kehadiran mahasiswa KKN.

Alasan umumnya, aktivitas KKN terkesan tidak terlalu berfaedah karena yang disuguhkan hanya kegiatan-kegiatan monoton tanpa hasil yang monumental.

Belum lagi munculnya perubahan attitude mahasiswa yang lebih meninggikan ilmu berbanding adab.

Harusnya menjadi pencerah malah tanpa disadari justru menambah kekeruhan di tengah masyarakat.

Kekurangpekaan terhadap kearifan lokal, lemahnya pola komunikasi dan koordinasi, minimnya penguasaan skill, hingga model implementasi yang tidak berbasis kebutuhan, dituding antara lain menjadi penyebab hambarnya rasa KKN itu sendiri.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved