Kupi Beungoh
Makna Haji Mabrur
Kita doakan semoga mereka sehat wal afiat selama berada di Tanah Suci, dapat melaksanakan ibadah haji dengan baik dan benar, mendapatkan haji mabrur.
Oleh: Ustaz Dr Muhammad Yusran Hadi, Lc, MA *)
BEBERAPA hari ini, para calon jamaah haji mulai berangkat ke Tanah Suci.
Kita doakan semoga mereka sehat wal afiat selama berada di Tanah Suci, dapat melaksanakan ibadah haji dengan baik dan benar, mendapatkan haji mabrur.
Selamat dalam perjalanan sampai tujuan pergi dan pulang.
Kepada para calon jamaah haji atau CJH yang berangkat ke Tanah Suci haji tahun ini, perbanyaklah syukur kepada Allah SWT karena sudah dipilih yang Maha Kuasa untuk menjadi tamu-Nya tahun ini.
Tidak semua orang diberikan kesempatan ini. Meskipun mereka punya harta banyak, namun harus mengantre bertahun-tahun ke depan.
Bahkan yang seharusnya jatah berangkat tahun ini tidak jadi berangkat karena adanya aturan baru dari Kerajaan Arab Saudi pada tahun ini berupa pembatasan umur maksimal 65 tahun.
Begitu juga karena halangan lainnya, seperti sakit atau bahkan meninggal.
Baca juga: VIDEO Kisah Mariano dan Mariana, Nenek Kembar asal Medan Pergi Haji Ingin Minta Jodoh
Kedudukan Haji
Kedudukan haji dalam Islam sangat penting dan krusial.
Haji termasuk salah satu rukun Islam yang lima dan kewajiban dari kewajiban-kewajiban dalam Islam.
Siapa saja yang mengingkarinya berarti dia telah kafir (murtad)."
Adapun hukum haji adalah wajib bagi seorang mukallaf yang mampu sekali dalam hidupnya sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran surat Ali 'Imran ayat 97.
Adapun berhaji lebih dari sekali hukumnya sunnat sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shallahu 'alaihi wasallam.
Banyak keutamaan haji sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits Nabi shallahu 'alaihi wa sallam yang shahih.
Baca juga: LAPORAN HAJI 2022 - Raudhah Sekarang Tidak Lagi Sama Dengan Raudhah Yang Dulu
Antara lain sebagai berikut:
Pertama; Haji merupakan amalan yang paling afdhal (utama).
Dalilnya, hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata,
"Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhal?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Beliau ditanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Beliau ditanya kembali, “Kemudian apa lagi?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, "Haji mabrur.” (HR. Al-Bukhari)."
Kedua, haji mabrur balasannya surga. Dalilnya, hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata.
"Dan haji mabrur itu tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)," ujarnya.
Adapun makna haji mabrur yang disebutkan dalam hadits tersebut.
Menurut para ulama, haji mabrur adalah haji yang tidak dicampuri dengan dosa atau maksiat.
Ada juga ulama mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang ketika orangnya pulang, ia bersikap zuhud terhadap dunia dan berambisi terhadap akhirat."
Baca juga: Suhu di Saudi Tembus 43 Derajat Celsius Saat Haji
"Ketiga: Mendapat pahala jihad fi sabilillah (perang di jalan Allah). Dalilnya, hadit yang diriwayatkan Aisyah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari)."
"Keempat: Menghapus dosa-dosa. Dalilnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari)."
"Kelima: Haji menghilangkan kefakiran dan dosa. Dalilnya, Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai, Tirmidzi, Ahmad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)."
"Dan terakhir, Keenam: Orang yang berhaji adalah tamu Allah ta'ala. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumrah adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri” (HR. Ibnu Majah. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan),"
Kepada umat Islam khusus para jama'ah haji agar melaksanakan ibadah dengan ikhlas dan sesuai petunjuk Nabi shallahu 'alaihi wa salllam yang shahih.
Inilah keutamaaan-keutamaan haji.
Berbagai keutamaan ini akan diperoleh jika ibadah hajinya itu dilakukan dengan ikhlas dan benar yaitu sesuai dengan sunnah atau petunjuk Nabi shallahu 'alaihi wa sallam yang shahih."
Hendaklah kita melakukan ibadah dengan ikhlas dan mengikuti petunjuk Nabi shallahu 'alaihi wa sallam yang shahih, agar ibadah kita diterima oleh Allah ta'ala.
Jika tidak, maka ibadah kita tidak akan diterima dan menjadi sia-sia, bahkan menimbulkan dosa dan murka Allah ta'ala. Nau'uzubillah. (*)
*) PENULIS adalah Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Provinsi Aceh, Anggota Ikatan Ulama dan Da'i Asia Tenggara, Ketua PC Muhammadiyah Syah Kuala Banda Aceh, dan Doktor Doktor Spesialis Fiqh dan Ushul Fiqh jebolan International Islamic University Malaysia (IIUM).
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ustaz-yusran-soal-haji-mabrur.jpg)