Opini

Migas Aceh untuk Siapa?

Ketika itu tahun 1971 Pertamina dan Mobil Oil menemukan cadangan gas alam yang sangat besar di perut bumi Serambi Mekah tepatnya di Desa Arun

Editor: bakri
IST
Dr Ir Dandi Bachtiar MSc, Dosen Jurusan Teknik Mesin dan Industri Universitas Syiah Kuala 

Walau faktanya nilai energi fosil tetap tinggi, karena dunia dilanda krisis energi sebagai akibat perang Rusia- Ukraina yang semakin meluas, serta energi terbarukan sebagai alternatif masih belum berkembang dengan semestinya.

Harga minyak bumi, gas dan batubara dunia terus melonjak tinggi.

Aceh yang alamnya masih kaya dengan migas dan batubara perlu menyikapi kondisi ini dengan bijak dan penuh pertimbangan.

Eksploitasi migas dan batubara menjanjikan pemasukan yang besar kepada kas daerah.

Namun akan menjadi tidak bermakna, apabila konsumsi kita akan migas dan batubara masih juga tinggi.

Karena akan menguras simpanan dana untuk membeli komoditi migas yang mahal ini.

Strategi jalan keluar terbaik yang dapat ditawarkan adalah eksploitasi energi migas Aceh tetap dilakukan namun dengan motivasi yang berbeda.

Bukan lagi sekadar mengeksploitasi untuk mengeruk laba penjualan minyak semata-mata, namun menyisihkan sebagian besar keuntungan migas Aceh ini untuk investasi di bidang pengembangan energi terbarukan.

Artinya pemerintah Aceh dapat merancang suatu program yang memanfaatkan dana hasil penjualan migasnya untuk membiayai program pengembangan teknologi energi terbarukan.

Seperti, pembangunan PLTA yang masif, PLTP yang potensial di Aceh, PLTS dan PLTB (angin).

Sumber dana yang dikumpulkan dari hasil migas Aceh dialokasikan dengan seksama dan sistematis kepada pihak-pihak yang berinovasi di bidang EBT.

Pemerintah Aceh perlu mendorong masyarakat untuk menggunakan energi terbarukan dalam aktivitas kesehariannya.

Insentif diberikan kepada penggunaan pembangkit listrik tenaga surya, pembangkit tenaga kincir angin, pembangkit listrik mini hidro di pedesaan, dan insentif percepatan pembangunan PLTP panas bumi Seulawah.

Kampanye-kampanye masif tentang energi terbarukan dapat dilakukan dengan dukungan dana yang besar dari hasil pendapatan migas dan batubara Aceh.

Intinya, migas dan batubara dieksploitasi menjadi komoditi ekspor sepenuhnya, namun kita sendiri menahan diri untuk tidak mengonsumsi energi fosil ini, melainkan menggantikannya dengan energi terbarukan yang kita kembangkan sendiri.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved