Wawancara Khusus

‘Aceh Perlu Kehidupan Normal’

Setelah lama tak terdengar, nama mantan Juru Bicara (Jubir) GAM, Sofyan Dawood, kembali menjadi pembicaraan publik

Editor: bakri

Mungkin dalam hal ini, Pemerintah Pusat ingin membantu Aceh untuk berkembang kembali.

Bahkan, dikasih Pj Gubernur yang sangat berpengalaman di TNI untuk coba membantu Aceh. Saya lihat mengarah ke situ.

Apa persoalan yang terjadi selama ini?

Persoalan awalnya mungkin kita kurang kekompakan sesama kita sendiri. Itu hampir terjadi dari periode ke periode (Gubernur Aceh). Masyarakat umum tahu bagaimana konflik antara eksekutif dengan legislatif.

Mungkin ini masalah komunikasi. Aceh perlu komunikasi antara lokal dan nasional. Buka komunikasi seluas-luasnya.

Sesama pemerintah di Aceh atau forkopimda harus kompak. Bahkan harus kompak juga dengan nasional agar bisa bantu Aceh. Jangan sampai kita ketinggalan.

Kita lihat kenapa kita mendapat dana otsus, mungkin karena Aceh konflik 30 tahun lebih, untuk mempercepat roda pemerintahan, ekonomi, dan pembangunan Aceh dengan dana otsus.

Tapi ternyata sudah 17 tahun masih belum tercapai target. Dari segi anggaran, ini yang harus dibenahi.

Apa karena alasan itu Pusat menempatkan Achmad Marzuki untuk memimpin Aceh?

Mungkin bisa jadi untuk membantu.Karena kita bisa lihat dari periode pertama damai, itu Pj Gubernur orang Aceh Pak Mustafa Abubakar, dia pernah menjadi menteri (Menteri BUMN), habis itu Bang Irwandi Gubernur Aceh, habis itu Dokter Zaini Gubernur Aceh, dan ada Pj juga Pak Tarmizi Karim. Habis itu Irwandi lagi, ada Plt juga setelah itu, Pak Soedarmo, habis itu masuk saat ini (Nova Iriansyah), dari Aceh ke Aceh.

Mungkin kita bisa merasakan  dengan adanya campur tangan pusat untuk membantu Aceh, dikirim seorang jenderal yang sudah pensiun untuk menjadi Pj Gubernur, saya kira kita harus sama-sama mendukung, bergabunglah, bergandengan tanganlah kita sesama Aceh. Kita harus kompak antara kabupaten/kota dengan provinsi serta dengan seluruh stakeholder di Aceh.

Saya pikir dinamika perjalanan (penunjukkan Pj Gubernur) itu tidak usah kita bicarakan lagi, yang penting hari ini sudah terjadi (pelantikan Pj Gubernur) seperti ini.

Ayo kita mengajak tokoh ulama, tokoh pemuda, mahasiswa dan semua tokoh lain agar sama-sama membangun Aceh. Aceh sudah terlambat sekali, tapi masih ada waktu.

Kesempatan kita masih tersedia sampai tahun 2027 saat berakhirnya dana otsus. Kita tidak bicara sambung atau tidak dana otsus, tapi dari sisa dana otsus itu apa target kita (ke depan).

Sebenarnya saat ada dana otsus sejak tahun 2008 hingga 2027, kita sudah punya target. Sampai berakhirya tahun 2027, kita punya target apa yang harus dibangun Aceh. Ini belum ada. Ini yang menjadi kesalahan besar.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved