Konsultasi Agama Islam
Bolehkah yang Berkurban memakan daging Kurban Wajib ? - Konsultasi Agama Islam
berqurban pada hari raya ‘Idul Adha hukumnya sunnah muakkadah. Ini merupakan pendapat mazhab Syafi’i dan kebanyakan ulama
Konsultasi Agama Islam adalah kerjasama Serambi Indonesia dengan Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD)
Oleh Tgk Alizar Usman
Pertanyaan Kesembilan
Assalamaulaikum Wr Wb
Pengasuh Serambi Konsultasi Agama Islam yang dirahmati Allah, kami jamaah dari Lokop, ada sedikit kurang paham perbedaan qurban nazar dan wajib, khususnya dalam pembagian daging, kami dengar dari pengajian, jika qurban nazar atau wajib, dimakan, maka harus bayar. Mohon penjelasannya, mungkin juga ada pendapat mazhab lain agar bisa dimakan selain qurban sunat. Doa kami semua kepada pengasuh KAI dan Serambi Indonesia selalu diberkahi Allah dalam dakwah konsultasi agama islam. Amin
Lokop, Serbajadi, Aceh Timur
Amriadi
Jawaban :
Wa’alaikumussalam wr wb
Terima kasih Sdr Amriadi dari Lokop, Serbajadi Aceh Timur. yang telah menjadikan ruang Konsultasi Agama Islam, kerja sama serambinews.com dengan ISAD ini sebagai tempat bertanya. Menjawab pertanyaan Sdr dapat dijelaskan sebagai berikut :
Pada dasarnya, berqurban pada hari raya ‘Idul Adha hukumnya sunnah muakkadah. Ini merupakan pendapat mazhab Syafi’i dan kebanyakan ulama. Imam al-Nawawi mengatakan :
أَنْ مَذْهَبَنَا أَنَّهَا سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ فِي حَقِّ الْمُوسِرِ وَلَا تَجِبُ عَلَيْهِ وَبِهَذَا قَالَ أَكْثَرُ الْعُلَمَاءِ وَمِمَّنْ قَالَ بِهِ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ وَعُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَبِلَالٌ وَأَبُو مَسْعُودٍ الْبَدْرِيُّ وَسَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ وَعَطَاءٌ وَعَلْقَمَةُ وَالْأَسْوَدُ وَمَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَأَبُو يوسف واسحق وَأَبُو ثَوْرٍ وَالْمُزَنِيُّ وَدَاوُد وَابْنُ الْمُنْذِرِ
Sesungguhnya mazhab kita (Mazhab Syafi’i), berqurban adalah sunnah muakkadah atas orang yang mampu dan tidak wajib. Pendapat ini merupakan pendapat kebanyakan ulama. Termasuk yang berpendapat sunnah adalah Abu Bakar al-Shiddiq, Umar bin Khathab, Bilal, Abu Mas’ud al-Badriy, Sa’id bin Musayyab, ‘Itha’, ‘Alqamah, al-Aswad, Malik, Ahmad, Abu Yusuf, Ishaq, Abu Tsur, al-Muzaniy, Daud, dan Ibnu al-Munzir. (Majmu’ Syarah al-Muhazzab VIII/385)
Baca juga: Bolehkah Pengantin Tayamum dan Jamak Shalat Setelah di Make-up ? - Konsultasi Agama Islam
Di antara dalil yang menjadi pegangan kebanyakan ulama ini adalah sabda Nabi SAW yang berbunyi :
إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ