Jurnalisme Warga
Lampoh Saka, Terlalu Manis untuk Dikenang
Berada di titik 121 kilometer dari Kota Banda Aceh, Lampoh Saka tak lebih dari sebuah kota kecil
Perusahaan jasa angkutan yang juga sukses mengantongi semua izin trayek seluruh Aceh dan Sumatera Utara ini merupakan transisi dari seorang pengusaha pria luar daerah yang sekali waktu kalah saham.
Sejatinya, ada Alaska Grup sebagai cerminan identitas hingga kini masih dalam genggaman seorang insinyur bernama Amiruddin Usman yang menggeluti ragam usaha: Indah Swalayan, Suman Mark Swalayan, USA Badminton, The Saka Coffee, Alaska Indah, dan PT Alaska Saho Adab bergerak di bidang jasa konstruksi.
Berbagai proyek besar baik dalam maupun luar Aceh sukses mencapai target.
Proyek pembangunan yang membuat semua mata tertuju saat ini adalah Gedung Islamic Center Pidie berlokasi tepat di pusat jantung kota Sigli.
Alaska sendiri singkatan lain dari Awak Lampoh Saka.
Akronim ini merujuk pada kota/negara bagian Amerika Serikat.
Saya sendiri cukup kental dibuli sebutan Alaska yang kemudian dilengkapi akhiran “ki.
” Selain itu, banyak juga pengusaha bergerak di bidang emas Antam, grosir barang bangunan di kiri kanan sepanjang Jalan Singgah Mata, Nasional, dan Manekroo Meulaboh.
Kabar terbaru, komunitas pengusaha Lampoh Saka mewacanakan pembangunan masjid di sana.
Dari sekian banyak, perusahaan otobus KAP merupakan ikon popularitas Lampoh Saka khususnya dan Aceh umumnya.
Entah karena Mercedez dan Scania-nya atau memang karisma pengelolanya.
Pengacara kondang sekelas Hotman Paris Hutapea pernah bertemu dalam sebuah kesempatan berbagi cerita bersama salah satu penerus KAP, Wahyu Wahab Usman, Anggota DPRA aktif dari fraksi PDA.
Lampoh Saka memang berbeda dengan kota lain secara umum.
Hampir tak ada pejabat dan pegawai pemerintah di sana.
Sejak dulu dikenal sebagai kota dengan dua profesi: pengusaha dan sopir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/yulia-erni-anggota-fame-chapter-pidie-melaporkan-dari-lampoh-saka-pidie.jpg)