Kupi Beungoh

Menangkap Pesan Pancasila dalam Pidato Politik Surya Paloh

Surya Paloh mengungkapkan keresahan yang terjadi dalam satu dasawarna ini dimana dua pilpres terakhir telah menciptakan banyak perpecahan

Editor: Muhammad Hadi
hand over dokumen pribadi
Safaruddin SH, Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Wisnuwardhana Malang | Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh | Ketua DPD Ikatan Advokat Indonesia ( Ikadin) Aceh | Email: nyaktafar@yahoo.com 

Oleh: Safaruddin SH *)

“Bagi saya pribadi, lebih baik tidak ada Pemilu jika itu hanya memberikan konsekuensi perpecahan pada bangsa ini”,

Kalimat ini disampaikan oleh Ketua Umum Partai Nadem, Surya Dharma Paloh, dalam orasi ilmiah promovendus pemberian gelar Doktor Hormatan (Honoris Causa) di Universita Brawijaya.

Saya menangkap semangat nasionalisme yang tinggi dalam kalimat tersebut, Pemilu memang amanah konstitusi sebagaimana di atur dalam pasal 22E UUD 1945.

Namun UUD 1945 merupakan penjabaran dari nilai-nilai yang dikandung dalam Pancasila khususnya pasal 3 dalam kaitan orasi ilmiah Surya Paloh.

Yaitu persatuan bagi seluruh rakyat Indinesia dimana mengandung nilai bahwa Indonesia menempatkan persatuan, kesatuan serta kepentingan serta keselamatan bangsa dan negara atas kepentingan pribadi dan golongan.

Baca juga: Aceh Butuh Konsolidasi Ekonomi, Kepemimpinan yang Kuat dan Stabilitas Politik

Persatuan Indonesia terkait dengan paham kebangsaan untuk menwujudkan tujuan nasional.

Persatuan dikembangkan atas dasar Bhineka Tunggal Ika, dengan memajukan pergaulan demi kesatuan dan persatuan bangsa.

Pancasila juga dijadikan sumber dari segala sumber hukum di Indonesia, oleh karena itu saya menangkap pesan Pancasila dalam orasi Surya Paloh tersebut.

Dalam penyampaian orasi tersebut ,Surya Paloh mengungkapkan keresahan yang terjadi dalam satu dasawarna ini dimana dua pilpres terakhir telah menciptakan banyak perpecahan.

Polarisasi sosial dan kebencian yang merupakan dampak dari kontestasi politik yang menggunakan eksploitasi politik identitas diberbagai lapisannya yang rawan menimbulkan kerusakan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca juga: Adu Kuat Tiga Poros Partai Politik untuk Bertarung pada Pilpres 2024

Eksploitasi politik identitas hanya akan menciptakan fragmentasi sosial yang mengancam dan merongrong eksistensi dan fondasi bangsa ini.

Dimana identitas buruk (bad) dan busuk (ugly) merupakan cara bukan hanya buruk dan merusak tapi membodohi.

Oleh karena itu, Surya Paloh menawarkan politik kebangsaan sebagai pilar dan komitmen politik bagi semua partai politik untuk kebaikan bersama dengan mengutamakan persatuan bangsa atau nasionalisme.

Terakhir Surya Paloh mengajak seluruh bangsa Indonesia menjadikan Politik Kebangsaan sebagai common project menjelang perhelatan politik di tahun 2024 nanti.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved