Breaking News:

Opini

Lindungi Martabat Ekologi Aceh

Pantai yang dipilih adalah Ujong Blang, Lhokseumawe, salah satu destinasi wisata pantai paling diminati pengunjung, dari Lhokseumawe, Aceh Utara

Editor: bakri
Lindungi Martabat Ekologi Aceh
IST
TEUKU KEMAL FASYA,  Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh. Tahun lalu melakukan riset tentang krisis lingkungan dan dampak sawitisasi di Aceh

Menurut Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan (HAkA) Aceh, dalam kurun Juni 2020-Juli 2021 saja, Aceh telah kehilangan 19.443 hektar tutupan hutan dan 251 ribu hektar berada dalam keadaan rusak atau kritis.

Padahal kemampuan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS-HL) Aceh merehabilitasi hanya 1.000 hektar per tahun.

Secara matematis, perlu 250 tahun untuk memperbaiki kerusakan.

Tak heran, ketika banjir musiman datang, penyangga DAS-nya telah kandas sejak hulu.

Industri jahat Hal lain yang membuat lingkungan di Aceh semakin kritis adalah tata kelola lingkungan dan perhutanan yang tidak dilakukan secara bermartabat.

Etika dan legalproseduralnya hilang entah ke mana.

Beberapa izin pengelolaan lahan seperti izin Hak Guna Usaha (HGU), Hutan Tanaman Industri (HTI), dan Area Penggunaan Lain (APL) termasuk di dalamnya perkebunan sawit dijalankan dengan menubruk prinsip dan proseduralisme yang dipersyaratkan model perencanaan perkebunan berkelanjutan.

Salah satunya adalah perusahaan sawit di Aceh Utara, satu pun belum memiliki sertifikat ISPO/ Indonesia Sustainable Palm Oil ( Serambinews.com, 2 Juli 2019).

Padahal ISPO adalah regulasi “akal-akalan” ketika Indonesia sulit mengikuti standar pengembangan sawit global, yaitu Rountable on Sustainable Palm Oil/ RSPO.

Tanaman sawit sendiri menjadi anomali.

Tumbuhan impor dari Afrika itu digadang-gadang menjadi lumbung kesejahteraan sosial dan pemasukan devisa negara paling penting.

Kenyataannya tidak demikian.

Hasil riset antropolog Tania Muray Li dan Pujo Semedi, Plantation Life: Corporate Occupation in Indonesia's Oil Palm Zone (2021) menunjukkan ruang kontradiktif dan burik dari industri sawit.

Ketika perkebunan sawit masuk ke daerah ke Nusantara, sejak awal telah tumbuh kartel, baik yang dikuasai oleh negara maupun swasta.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved