Breaking News:

Opini

Lindungi Martabat Ekologi Aceh

Pantai yang dipilih adalah Ujong Blang, Lhokseumawe, salah satu destinasi wisata pantai paling diminati pengunjung, dari Lhokseumawe, Aceh Utara

Editor: bakri
Lindungi Martabat Ekologi Aceh
IST
TEUKU KEMAL FASYA,  Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh. Tahun lalu melakukan riset tentang krisis lingkungan dan dampak sawitisasi di Aceh

Klaimklaim kesejahteraan yang dikampanyekan tidak empirikal terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar.

Alih-alih sejahtera, yang terjadi malah “pendudukan korporasi” (corporate uccupation), mereplikasi gaya kolonial Belanda ketika membawa empat biji sawit (Elaeis guineensis) itu ke Kebun Raya Bogor pada 1848 itu.

Tanaman ini menjadi Giganotosaurus yang memorak- porandakan hutan Indonesia 130 tahun kemudian bak Isla Nublar.

Tesis itu kini terpermadanikan secara kontras.

Mahalnya harga jual tinggi dan kelangkaan minyak goreng – yang secara terburu-buru dikatakan Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan, bukan karena mafia, ternyata tidak terklasifikasi.

Buktinya petani sawit tidak sejahtera oleh tingginya harga jual minyak goreng, meskipun larangan ekspor CPO dicabut.

Bahkan semakin aneh, tandan buah segar (TBS) semakin merosot ketika harga jual minyak goreng tetap meninggi ( Serambinews.com, 31 Mei 2022).

Maka, yang berjaya dari selubung sejarah perkebunan sawit Indonesia adalah “kaum imperial” yang menguasai pasar.

Adapun petani sawit adalah kurcaci yang tetap terpuruk, miskin, kurang pendidikan, dan berutang.

Akibat dari buruknya tata kelola perkebunan sawit ini juga menabrak sisi paling vital dari benteng lingkungan, yaitu Daerah Aliran Sungai (DAS).

Banjir langganan selama ini vouchernya berada di hulu DAS yang telah hancur oleh illegal logging, izin “penebangan legal”, borjuasi konsesi lahan termasuk penelantaran, hingga sawitisasi.

Menurut tim ahli Perencana Pengelolaan Terpadu DAS Aceh Dr Ir Halim Akbar ada sekitar 20 DAS Aceh rusak parah seperti Keureuto, Jambo Aye, Peusangan, Singkil, dan Meureubo yang terjadi akibat kumulasi masalah di atas.

Sayangnya pemerintah tak kunjung berkoordinasi cepat dan tepat menyelesaikannya.

Gulungannya berupa banjir dan kekeringan yang melipatgandakan kemiskinan Aceh terutama petani.

Masalah itu kini harus dipanggul di pundak Pj Gubernur Aceh, Letjen (Purn) Achmad Marzuki, di samping masalah lainnya yang menggunung.

Pelantikan 6 Juli lalu itu adalah titik awal untuk mengemban amanat, di samping masalah lainnya seperti kemerosotan pendidikan, stunting dan gizi buruk, kemiskinan, pengangguran, dan “banjirnya” dana Otsus Aceh ke mana-mana.

Baca juga: Kawasan Ekonomi Khusus Sanur Siap Wujudkan Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Jadi Destinasi Wisata

Baca juga: Pemko Benahi Lapangan Hiraq Untuk Wujudkan Ikon Destinasi Wisata Kota Lhokseumawe

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved