Rabu, 29 April 2026

Jurnalisme Warga

Ulun Tanoh, Desa Literasi di Negeri Seribu Bukit

SEBULAN lalu saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Kabupaten Gayo Lues atau yang lebih dikenal dengan julukan “Negeri Seribu Bukit”

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
BAIHAKI,  Kontributor Majalah Tekkomdik Dinas Pendidikan Aceh, melaporkan dari Gayo Lues 

OLEH BAIHAKI,  Kontributor Majalah Tekkomdik Dinas Pendidikan Aceh, melaporkan dari Gayo Lues

SEBULAN lalu saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Kabupaten Gayo Lues atau yang lebih dikenal dengan julukan “Negeri Seribu Bukit”.

Menempuh perjalanan menggunakan bus berangkat bakda Isya lebih kurang sebelas jam dari Kota Banda Aceh hingga paginya tibalah di Desa (Gampong) Ulun Tanoh, Kecamatan Kutapanjang, Kabupaten Gayo Lues.

Tak salah kabupaten ini dijuluki Negeri Seribu Bukit karena untuk menuju ke sana terlihat pemandangan yang dikelilingi perbukitan.

Saya tertarik ke Gayo Lues karena belum pernah sekalipun ke sana dan ingin sekali bersilaturahmi dengan seorang sahabat semasa kuliah yang kini telah menjadi kepala desa (pengulu) berprestasi tingkat nasional.

Setibanya di sana, saya disambut oleh Suhardinsyah yang tak lain Kepala Desa Ulun Tanoh.

Kopi dan lepat khas Gayo menemani sarapan pagi saat kami bincangbincang.

Tiga hari dua malam berada di Gayo Lues, setidaknya saya lebih mengenali Desa Ulun Tanoh yang dulunya terbelakang bahkan disebut “kolot”.

Kenapa disebut desa kolot, ternyata anak-anak muda yang ada di sini banyak pengangguran dan masih suka sabung ayam, serta masih banyak lagi hal negatif yang disematkan ke desa ini.

Bahkan, bagi yang mau menikah dari desa lain pasangannya baik pemuda atau pemudi yang berasal dari Ulun Tanoh, menjadi bahan perbincangan bahkan mengurungkan niatnya untuk menuju ke pelaminan.

Baca juga: Warga Desa Ulun Tanoh Gayo Lues Terima BLT Dana Desa, Penyandang Disabilitas Diantar ke Rumah

Baca juga: Penghulu Desa Ulun Tanoh Resmikan Jembatan Gantung Bantuan Kementerian Desa

Begitulah imej negatif disematkan ke desa tersebut.

Namun, itu dulu.

Seiring dengan perjalanan waktu, Desa Ulun Tanoh yang dulunya desa kolot, sekarang sudah berubah menjadi desa berprestasi dan berliterasi.

Perubahan desa ini yang drastis bukan secara serta merta, melainkan melalui sebuah proses, terutama sejak dipimpin seorang anak muda yang kreatif, inovatif, dan visioner.

Suhardinsyah (42), merupakan sosok kepala desa yang mengubah semuanya.

Mantan aktivis mahasiswa S-1 Jurusan Pendidikan Jasmani dan Olahraga Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala (USK) merupakan sosok di balik perubahan Desa Ulun Tanoh.

Desa Ulun Tanoh kini memiliki 180 kepala keluarga (KK) dengan jumlah penduduknya 726 jiwa.

Terdiri atas 367 laki-laki dan 359 perempuan dengan mata pencaharian bertani dan berkebun.

Jarak dari desa ke ibu kota Kecamatan Kutapanjang 5 km dan ke ibu kota kabupaten di Blangkejeren 8,5 km.

Priia humoris ini pernah terlibat perseteruan dengan Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kabupaten Gayo Lues hingga dia pun masuk daftar pencarian orang (DPO) dari pihak berwajib.

Lalu, dia pun meninggalkan kampung halamannya dengan merantau ke Jawa.

Bertahun lamanya berada di Jawa, ia kembali lagi ke kampung.

Bukan sebagai perusuh, melainkan memiliki niat baik untuk menata desa kelahirannya.

Singkat cerita, Suhardinsyah terpilih menjadi Kepala Desa Ulun Tanoh.

Niat dan cita-citanya mewujudkan desa berprestasi dan berliterasi mulai dijalaninya.

Periode pertama kepemimpinannya, dimulai dengan program pemberdayaan ekonomi masyarakat, apalagi didukung adanya dana alokasi gampong (DAG) yang dialokasikan oleh pemerintah pusat.

Pembukaan lahan pertanian dan perkebunan adalah target utamanya.

Mengajak masyarakat dan para pemuda untuk bergotong royong merupakan alternatif untuk menggarap sektor pertanian dan perkebunan.

Desa Ulun Tanoh memiliki lahan yang sangat luas untuk dijadikan lahan pertanian: bersawah dan berkebun seperti menanam jagung, kacang, ubi dan lainlain, apalagi di desa ini memiliki sungai sepanjang 8 km bisa dibuat irigasi untuk mengairi air ke sawah.

Begitu juga dari sektor peternakan.

Banyak masyarakatnya memelihara sapi.

Ada cerita unik tentang sapi yang berkeliaran di desa ini.

Sudah pasti kotorannya memenuhi jalan sehingga membuat jalan beraspal di Desa Ulun Tanoh menjadi kotor.

Kepala desa memikirkan agar jalan menjadi bersih dari kotoran sapi sehingga Suhardinsyah belajar bagaimana cara memanfaatkan kotoran sapi menjadi pupuk.

Akhirnya, ayah dari empat orang anak ini berhasil belajar memanfaatkan kotoran sapi menjadi pupuk dan bisa dijual menghasilkan uang.

Karena, kotoran sapi memiliki nilai ekonomis, akhirnya masyarakat yang memelihara sapi tidak melepaskan sapinya berkeliaran tetap berada di kandang.

Bahkan, pemilik sapi yang mencari rerumputan.

Permasalahan kotoran sapi sudah tuntas, tidak ada lagi kotoran yang bertumpuk di jalan, malahan rerumputan seperti ilalang menjadi bersih dikarenakan pemilik sapi itu sendiri yang memotong rumput.

Secara perlahan para pemuda yang dulunya banyak menganggur disibukkan dengan aktivitas ke sawah dan berkebun, begitu juga dengan pemudinya dan ibu-ibu rumah tangga diberikan modal usaha seperti menjahit.

Bahkan, semasa Covid-19 diberikan modal menjahit masker, bantuan dananya melalui dan desa.

Lalu dipasarkan ke ibu kota kabupaten yang hasilnya bernilai ekonomis.

Bukan saja berhasil dari sektor pemberdayaan ekonomi masyarakat, akan tetapi Desa Ulun Tanoh merupakan desa literasi untuk mencerdaskan anak negeri.

Entah karena Suhardinsyah ini memperoleh gelar sarjana pendidikan, sudah pasti saat kuliah di perguruan tinggi diterpa ilmu pendidikan untuk menjadi seorang guru.

Ternyata benar, jiwa keguruannya masih terpatri dalam hati sanubarinya.

Putra-putri Desa Ulun Tanoh diharapkannya menjadi generasi yang pintar dan cerdas melalui membaca karena membaca adalah jendela dunia.

Untuk menumbuhkan minat baca bagi siswa yang masih duduk di jenjang SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/ MA dibangunnya perpustakaan mini berlokasi di samping Kantor Desa Ulun Tanoh.

Saya takjub melihat perpustakaan mini yang terlihat bersih, bukunya tersusun rapi, di depannya ada tempat duduk permanen yang beratap, apalagi dilengkapi Wifi digunakan secara gratis bagi pelajar dalam menyelesaikan tugas-tugas di sekolah yang bahannya dicari melalui internet.

Menariknya, internet gratis ini khusus digunakan untuk media pembelajaran saja, dilarang bermain game, dan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Kepala dan perangkat desa langsung mengontrol aktivitas pelajar dalam menggunakan internet yang disediakan oleh desa.

Ada beberapa buku yang tak asing lagi terpajang di rak perpustakaan ini, penulisnya ada dari alumnus FKIP USK yang penulis kenal.

Ada lagi ratusan Majalah POTRET dan Anak Cerdas, pimpinan redaksinya Tabrani Yunis, sahabat dan senior saya.

Masih banyak buku bacaan lain diperoleh dari bantuan perpustakaan nasional.

Tentu ini semua tidak terlepas kelihaian dari kepala desanya yang membangun relasi di provinsi dan nasional.

Tak salah Desa Ulun Tanoh dijuluki desa literasi karena dipimpin oleh anak muda yang visioner bahkan tahun 2021 lalu dipercayakan oleh masyarakatnya terpilih kembali menjadi kepala desa untuk periode kedua.

Desa Ulun Tanoh pernah meraih juara satu desa berprestasi tingkat Kabupaten Gayo Lues dan juara tiga tingkat Provinsi Aceh.

Wajarlah, Suhardinsyah selaku kepala desa diundang ke tingkat nasional di Denpasar, Provinsi Bali, bertemu dengan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo untuk menerima penghargaan.

Kepala Desa Ulun Tanoh ini kini dipercayakan sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (DPC APDESI) Kabupaten Gayo Lues.

Dalam postingan di media sosialnya, terlihat saat ini ia sedang melakukan penguatan ketahanan pangan dengan memberikan bibit ikan mas dan nila kepada masyarakat Desa Ulun Tanoh.

Kiprah seorang sarjana pendidikan mampu mengubah desa terbelakang dan kolot menjadi desa berprestasi dan berliterasi dibuktikan oleh seorang Suhardinsyah dari hitam menjadi putih.(*)

Baca juga: Tim Supervisi Polda Aceh dan Kapolres Gayo Lues Kunjungi Desa Tangguh Ulun Tanoh, Ini yang Dilakukan

Baca juga: Kapolres Gayo Lues Pilih Desa Ulun Tanoh Sebagai Desa Tangguh

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved