Opini
Mensyukuri Kemerdekaan
Usia kemerdekaan yang ke 77 bagi bangsa Indonesia bukanlah usia yang terhitung muda, hampir menyentuh satu abad lamanya
OLEH MUNAWIR UMAR, Imam Masjid Al-Hikmah Kota New York USA
IDENTITAS tertinggi bagi suatu bangsa adalah terbebas dari penjajahan.
Penjajahan dipotret dari sisi terbatas dapat dimaknai dengan terbebasnya sebuah bangsa dari peperangan senjata antara satu negara dengan negara yang lain.
Tetapi bila dilihat secara lebih luas, maka kemerdekaan akan dimaknai dengan bebasnya kita dari berbagai belenggu kehidupan.
Boleh diartikan dengan belenggu pemikiran, ekonomi, juga perang dan hal lain yang semakna dengan itu.
Tetapi persoalannya adalah apakah setiap kita telah merasakan hakikat dari makna kemerdekaan yang sejati itu? Dan mungkin setiap orang bisa meraih semua itu? Detail jawabannya ada pada setiap pribadi kita.
Karena terkadang kita terjerat oleh jajahan hawa nafsu kita sehingga jauh dari makna kemerdekaan.
Mudah-mudahan Artikel ini menjadi sebuah inspirasi dan pada waktu yang sama barang kali sebagai solusi untuk saya, Anda dan kita semua dalam rangka menyongsong kemerdekaan hakiki sekaligus sebagai momentum kemerdekaan negeri kita Republik Indonesia ini.
Usia kemerdekaan yang ke 77 bagi bangsa Indonesia bukanlah usia yang terhitung muda, hampir menyentuh satu abad lamanya.
Baca juga: OJK Aceh Gelar Upacara HUT Ke-77 RI, Angkat Tema Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat
Baca juga: Akhyar Panjat Tiang untuk Lepaskan Bendera Terlilit Tali, Aksi Pelajar di Pidie Saat Upacara HUT RI
Bila kita ibaratkan kepada seorang manusia, barangkali orang tersebut sudah membungkuk dan menua bahkan penglihatan pun barangkali sudah tidak seakurat di masa muda.
Ada pula mungkin di antara kita yang sudah mengalami gangguan jiwa.
Tentu berbeda halnya dengan usia kemerdekaan sebuah negara dan bangsa.
Bagi sebuah bangsa, harusnya dan sangat ideal didambakan bahwa semakin usianya bertambah dan menua, semakin berkualitas pula kemajuan dan peradaban manusia.
Peradaban dalam arti seluruh sektor kebutuhan manusia, mulai dari agama hingga kebutuhan material yang tersalurkan sesuai dengan norma aturan sebuah bangsa.
Berbeda halnya bila dilihat pada fakta dewasa ini, ketimpangan semakin terjadi, kemiskinan juga semakin bertambah, dan tidak sedikit pula orang susah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Tengku-Munawir-Umar.jpg)