Breaking News:

Kupi Beungoh

Aceh dan Kepemimpinan Militer (VII) Al Mukammil: Hard Power dan Shock Therapy

Al Mukammil memperkuat tentara kerajaan Aceh-terutama angkatan laut, untuk penguasaan dan pengamanan teritorial kawasan maritim

Editor: Muhammad Hadi
Dok Pribadi
Ahmad Humam Hamid, Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala 

Oleh Ahmad Humam Hamid*)

“Meugeureugoh”-adalah sebuah istilah bahasa Aceh yang sangat jarang digunakan. Ungkapan kata ini seringkali berasosiasi dengan kekuatan dan wibawa.

Sekalipun kata ini lebih terkait dengan kualitas individu, namun kadang ditemui juga kaitannya dengan kawasan dan komunitas.

Intinya, pesan yang dikandung, berhitunglah dengan cermat jika berurusan dengan individu, komunitas, atau kawasan yang “meugereuregoh”.

Apa yang sangat spektakulär yang terjadi ketika Al Mukammil menjadi raja Aceh yang ke 10 adalah sebuah kebijakan yang dalam kenyataannya tak ubahnya sebuah “doktrin” pertahanan.

Al Mukammil menginginkan keamanan mulut Selat Malaka sebagai pintu masuk dan keluar dari ke Samudra Hindia.

Ia memperkuat tentara kerajaan Aceh-terutama angkatan laut, untuk penguasaan dan pengamanan teritorial kawasan maritim.

Benih “city state” Aceh- negara kota yang fondasinya dibangun oleh Mughayatsyah, kemudian diperluas oleh Al Qahar, selanjutnya ditransformasikan oleh Al Mukammil menjadi digdaya kekuatan maritim kawasan.

Baca juga: Aceh dan Kepemimpinan Militer (VIII) - Al Mukammil: Soft Power dan Dansa Diplomasi

Aceh sebagai negara kota yang ekonominya tergantung pada kemajuan pedagangan membutuhkan keamanan kawasan maritim yang terjamin.

Untuk memastikan kekuatan maritim itu kuat, Al Mukammil mempersiapkan ratusan kapal perang dengan ribuan prajurit.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved