Rabu, 15 April 2026

Kupi Beungoh

Aceh dan Kepemimpinan Militer (VII) Al Mukammil: Hard Power dan Shock Therapy

Al Mukammil memperkuat tentara kerajaan Aceh-terutama angkatan laut, untuk penguasaan dan pengamanan teritorial kawasan maritim

Editor: Muhammad Hadi
Dok Pribadi
Ahmad Humam Hamid, Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala 

Diantara korban yang tewas dari kedua pihak adalah Cornelis de Hotman, yang dilukiskan oleh Douglas sebagai kematian diujung senjata “admiral”- laksamana Malahayati.

Baca juga: Aceh dan Kepemimpinan Militer (VI) - Sultan Al Mukammil, "Repertoar Raja Boneka”

Pertempuran kecil itu dimenangkan oleh Malahayati, terubukti dengan ditawannya Frederick de Houtman di Aceh selama 2 tahun.

Dasar individu pembelajar dan ambisius, dalam penjara Aceh, Frederick belajar bahasa melayu dan menulis kamus Belanda-Melayu.

Kamus itu merupakan kamus pertama dua bahasa itu, dalam sejarah yang diterbitkan pada tahun 1603.

Kamus itu kemudian menjadi alat ampuh petualangan penjajah Belanda dalam menaklukkan , menguasai,dan menjajah nusantara.

Kematian Cornelis de Houtman ditangan Malahayati, dalam sebuah pertarungan pedang di atas kapal Belanda ,mempunyai implikasi yang sangat besar.

Bagi Aceh, kejadian itu adalah demonstrasi keberanian dan kecanggihan, dan kualitas individu pimpinan tentara, apalagi seorang perempuan.

Baca juga: Polda Aceh Selidiki Asal Usul Video Pembakaran Bendera Merah Putih yang Viral di Medsos

Bagi bangsa-bangsa Eropah yang berminat menjajah Nusantara, dalam hal kerajaan Aceh, kasus Cornelis menjadi pelajaran dan pesan yang cukup berarti.

Cournelis De Houtman adalah pionir penjajahan nusantara yang kemampuan navigasi, taktik, strategi, dan teknik perang tidak diragukan.

Dia adalah pelaut dan petulang hebat yang dibayar khusus oleh sindikat pedagang rempah Belanda untuk mencari tahu, dan belajar dari pengalaman Portugis.

Seperti diketahui Portugis mendahului bangsa-bangsa Eropah berniaga dan menjajah ke Afrika dan Asia.

Paling kurang ia tinggal di Lissabon setahun lebih untuk memperoleh informasi dan belajar tentang rempah, kekuatan dan keadaan masyarakat kawasan, terutama di Nusantara.

Ia juga belajar tentang navigasi maritim mulai keluar dari Atlantik, ke semenajung Afrika, Samudra India, dan perairan Nusantara.

Sindikasi sebagian pedagang rempah Belanda kemudian membiayai Cornelis de Houtman untuk ekspedisi pertama yang membawanya sampai ke Banten pada 6 Juni 1596 ( Douglas 2021).

Segera ia membuat perjanjian pembelian lada dengan raja Banten, bahkan terkesan hendak meminggirkan monopoli Portugis yang telah datang sebelumnya.

Kelakuan Cornelis dan awak kapalnya dalam penjelajahan itu menggambarkan dua hal sekaligus.

Baca juga: Harga TBS Kelapa Sawit Terus Naik, Petani Gembira, Segini Harga Sawit di Aceh Singkil

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved