Rabu, 15 April 2026

Kupi Beungoh

Aceh dan Kepemimpinan Militer (VII) Al Mukammil: Hard Power dan Shock Therapy

Al Mukammil memperkuat tentara kerajaan Aceh-terutama angkatan laut, untuk penguasaan dan pengamanan teritorial kawasan maritim

Editor: Muhammad Hadi
Dok Pribadi
Ahmad Humam Hamid, Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala 

Kesombongan dan keberuntungan. Ia bentrok dengan raja Banten,sehingga tak bisa membeli lada. Ia juga biang kerok keributan ketika mendarat di Madura.

Terbunuhnya Cornelis menjadi kampanye besar kehebatan angkatan perang Kerajaan Aceh di Eropah. Inggris sangat segera mersepons terhadap kejadian itu.

Belanda yang sebelumnya sudah mendapat perhatian Aceh, juga tidak mengutuk Al Mukammil, apalagi mengancam untuk menyerang.

Kematian Cornelis menjadi sebuah keberuntungan tak sengaja, dan kasus itu menjadi “shock therapy”, terhadap penganggu kedaulatan Aceh.

Kejadian itu tidak hanya menjadi bukti terhadap pegendalian wilayah maritim Aceh, tetapi juga refleksi tehnologi perang maritim, kompetensi navigasi kelautan, dan kecanggihan angkatan perang.

Dua tahun setelah kematian Cornelis, Belanda memberi reaksi yang sama sekali tidak menunjukkan sikap marah.

Raja Belanda Prince Maurice mengrim surat kepada Al Mukammil, dan surat itu bahkan menjadi era diplomatik baru untuk kedua negara.

Surat itu dibawa oleh Le Roy dan Bicker dari perusahaan Zeland (Mitrasing 2011) dan tiba di Aceh pada tahun 23 Agustus 1601).

Baca juga: Aceh dan Kepemimpinan Militer (V) - Alaiddin Riayat Syah, Sulaiman Agung, dan Laksamana Kortuglu

Prince Maurice menyatakan keinginan Belanda untuk bersahabat dengan Aceh, menuduh Portugis telah memfitnah Cornelis kepada raja Aceh, dan kini bersedia membantu Aceh untuk memerangi Portugis.

Maurice juga memohon agar Frederick de Houtman dapat dibebaskan.

Maurice juga mengirim berbagai barang-barang berharga kepada Al Mukammil sebagai tanda ketulusan persahabatan.

Surat dan bingkisan itu segera direspons oleh Al Mukammil, Frederick de Houtman memang segera di bebaskan, dan ia segera bergabung dengan Le Roy dan Becker pulang ke negeri Belanda.

Menariknya, kebiasaan kesopanan diplomatik yang ditunjukkan oleh Maurice kepada Al Mukkammil, apapun alasannya sangat tidak biasa.

Alih-alih menulis tertanda “raja Belanda” di akhir surat , ia menulis “ kissing hand “-cium tangan yang mulia, dan “ your servant”-pelayanmu.

Penghormatan ini memang sangat tidak biasa, karena ditulis oleh seorang raja jago perang yang telah mempersatukan sejumlah kerajaan kecil yang kemudian menjadi Uni Belanda.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved