Kamis, 30 April 2026

Opini

Darurat Bullying di Sekolah

SALAH satu problematika yang dihadapi dunia pendidikan dewasa ini masih banyaknya praktik bullying dan kasus kekerasan di sekolah

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
HUSEN SSy MAg, Wakil Ketua Departemen Pendidikan SMA Lembaga Pemantau Pendidikan Aceh (LP2A) 

Namun aturan tersebut hanya menindak pelaku atas peristiwa yang terjadi setelah pelaku dinyatakan bersalah secara hukum, tapi tidak mampu untuk mencegah terjadinya peristiwa bullying di lembaga pendidikan.

Maka perlu adanya remot pengontrol untuk mengerem dan menghilangkannya virus bullying di semua lembaga pendidikan.

Remot kontrol inilah buah dari kerja sama semua stakeholder (pemerintah, kementerian pendidikan, pengawas sekolah, kepala sekolah, komite, guru, keterlibatan peran orang tua, serta masyarakat) harus memiliki koneksi dan sefrekuensi yang sama.

Penyebab bullying Salah satu penyebab terjadinya tindak perilaku bullying yaitu kurangnya pendidikan dan kontrol orang tua pada anak.

Menurut Andrew Mellor, Ratna Djuwita, dan Komarudin Hidayat dalam seminar “Bullying: Masalah Tersembunyi dalam Dunia Pendidikan di Indonesia” di Jakarta tahun 2009, mengatakan bullying terjadi akibat faktor lingkungan keluarga, sekolah, media, budaya dan peer group.

Perilaku bullying sering kali berasal dari keluarga yang bermasalah, orang tua yang sering menghukum anaknya secara berlebihan, atau situasi rumah yang penuh stres, agresi, dan permusuhan.

Anak mempelajari dan mengamati konflik-konflik yang terjadi pada orang tua mereka, kemudian meniru serta mempraktikkannya terhadap teman-temannya.

Di samping itu, faktor lain yang mendukung virus bullying berkembang di lingkungan sekolah yaitu termasuk faktor pelaku (Kepala Sekolah dan dewan guru).

Hal ini menjadi fatal jika kepala sekolah dan guru tidak sepenuhnya perhatian ke sekolahnya.

Misalkan kepala sekolah kurang terhadap pembinaan dan kontrol guru dan peserta didik, kepala lebih disibukkan dengan mengurus dana BOS agar tidak bermasalah di kemudian hari atau lebih penting membangun relasi agar bisa mempertahankan posisi.

Ditambah dengan pihak guru yang kurang menasihati dan edukasi, serta kurang perhatiannya kepada siswa.

Bahkan yang parahnya lagi saat di kelas masih ada sebagian guru hanya menyuruh siswa mencatat atau menjawab soal, sedangkan gurunya disibukkan dengan pekerjaan lainnya, bahkan hanya sekedar main HP, hal ini sungguh ironi.

Belum lagi ditambah dengan guru setiap harinya disibukkan mengejar tugas administrasi guru (RPP, LKH, Buku Kerja, dan lain sebagainya) yang sifatnya administratif.

Bukan maksud penulis bahwa administrasi guru itu tidak penting, justru itu dibutuhkan.

Akan tetapi, ada yang lebih substansial dan lebih utama diperhatikan yaitu peserta didik sebagai generasi penerus bangsa.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved