Opini
Prof Azra, Aceh dan Islam Kosmopolitan
Salah seorang ilmuan muslim yang sangat reputatif, dan memiliki pengaruh positif terhadap tatanan dunia yang dikehendaki sekarang
Selain itu harus toleran, kosmopolit dan berpandangan jauh ke depan.
Sejatinya, Prof Azra, yang tengah dalam pesawat ketika mulai sakit, akan terlibat dalam sebuah seminar tentang "Kosmopolitan Islam", topik yang sangat digandrunginya.
Konsep kosmoplitan ini, bagi Azra, berakar dari konsep wasathiyah Islam.
Konsep ini menganggap manusia berasal dan mempunyai kedudukan yang sama dalam suatu komunitas atau di ruang publik.
Batas-batas seperti ekonomi, keyakinan, fisik, budaya tidak menjadi penghalang untuk menyarakat saling berhubungan.
Menurut keyakinan modern, kosmopolitansime lahir dan membentuk jaringan transnasional dan menjangkau institusi global dan akhirnya membentuk institusi global.
Jaringan ini diciptakan oleh imigran dan kaum urban dalam suatu negara bangsa atau etnik yang akhirnya menciptakan kosmopolitanisme.
Globalisasi merupakan faktor pendorong terjadi masyarakat global tanpa batas tertentu.
Globalisasi mendorong kultur kosmpolit yang berkaraker inovatif, toleran dan tidak curiga dengan hal baru.
Bagaimana Aceh? Aceh memiliki karakter dasar dan sejarah yang sangat kosmoplit.
Kosmopolitanisme Aceh didorong oleh para imigran yang datang dari berbagai penjuru dunia.
Para pendatang dari Arab dan Gujarat, antara lain, memberi warna terhadap wajah Aceh dan Islam.
Aceh di masa lalu persis seperti "melting pot", yaitu kuali besar tempat luluhnya berbagai latar-belakang etnik dan budaya.
Hasil adonan dari kuali besar ini menghasilkan kultur Aceh yang sangat percaya diri.
Di masa lalu, pendukung kultur Aceh ini membuka diri dan menyambut hangat semua etnik, agama dan budaya di muka bumi untuk berpartisipasi guna memperkaya budaya Aceh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/teuku-taufiqulhadi-ketua-nasdem-aceh.jpg)