Breaking News:

Opini

Prof Azra, Aceh dan Islam Kosmopolitan

Salah seorang ilmuan muslim yang sangat reputatif, dan memiliki pengaruh positif terhadap tatanan dunia yang dikehendaki sekarang

Editor: bakri
SERAMBI/SYAMSUL AZMAN
TEUKU TAUFIQULHADI, Ketua DPW Partai NasDem Aceh 

Modernisasi kurikulum dilakukan dengan mengembangkan Islamic Studies dalam penyelesaian persoalan umat Islam, mengembangkan ilmu-ilmu humaniora degan ciri khas Islam serta memasukkan iptek dalam struktur kurikulum pendidikan Islam.

Modernisasi lembaga dilakukan dengan memperbaiki sarana dan prasarana lembaga pendidikan Islam dengan memadukan majeman modern dan kultur masyarakat setempat.

Berbasis modernisasi pendidikan Islam ini, Prof Azra bergerak menjelajah semua literatur dan khazanah yang ada.

Berawal dari lulusan Universitas Columbia, New York, dengan judul disertasi "The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Network of Middle Eastern and Malay-Indonesian Ulama in Seventeenth Eighteenth Century", Azra mengajukan pandangan-pandangannya tentang isu sosial dan politik.

Ia berpendapat, demokrasi harus masuk dalam pendidikan Islam.

Baca juga: Profil Azyumardi Azra, Ketua Dewan Pers yang Pernah Jadi Rektor UIN Jakarta Meninggal Dunia

Karena dengan demikianlah kita dapat mengharapkan pendidikan Islam yang bermutu.

Proses pendidikan yang tidak didukung oleh iklim pendidikan yang demokratis akan menghasilkan output yang tidak sesuai dengan tuntutan kekinian Indonesia.

Prof Azra menolak klaim dominasi suatu kelompok etnik dan agama di atas negara ini.

Hal itu, menurutnya, tidak sesuai pemahamannya sebagai sebuah ajaran Islam yang unggul dan anggun.

Ia, merujuk kepada nomenklatur "wasath" yang berasal dari al-Quran yang terkenal dengan ungkapan 'ummatan wasathan' (Al-Baqarah 2:143), yang sangat terkenal itu.

Meski 'wasath' diperkenalkan 14 abad yang lalu, tetapi resonansi nomenklatur qurani ini justru lebih menggema dan relevan sekarang ini.

Menurut Azra konsep Wasathiyah Islam lebih pas dibandingkan istilah 'moderasi beragama'.

Wasathiyah Islam ini, menurut Prof Azra, ada jejak yang kuat dalam literatur kepulauan nusantara sejak abad ke-17 dan terus melanjut pada masa sesudahnya.

Dalam kajian nomenklatur dan kajian Islam sekarang, tulis Azra, Wasasthiyah Islam bisa disebut 'justly balance" atau "middle path".

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved