Breaking News:

Jurnalisme Warga

Mandi Safar, Upacara Nasional Masa Kesultanan Aceh

Tradisi mandi Safar pada hari Rabu terakhir (uroe Rabu habeh) di bulan Safar (buleuen Safa), nyaris sama sekali tak lagi dipraktikkan oleh masyarakat

Editor: bakri
Mandi Safar, Upacara Nasional Masa Kesultanan Aceh
IST
T.A. SAKTI,  Pensiunan dosen Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Gampong Bucue, Kecamatan Sakti, Pidie

Upacara mandi Safar ini dilakukan pada hari Rabu terakhir dari bulan Safar sehingga dalam bahasa Aceh disebut ‘manoe Rabu habeh’ (mandi hari Rabu terakhir di bulan Safar).

Kenapa mesti hari Rabu? Karena, dalam pandangan tempo dulu, hari Rabu itu adalah hari yang mengandung nahas, yakni ada bahayanya di saat-saat tertentu pada hari itu.

Menurut penuturan orangorang tua, mereka melakukan mandi Safar tempo dulu dengan penuh harapan.

Baca juga: Cucu Sultan Aceh Ucapkan Terima Kasih kepada Presiden Erdogan karena Peringati 17 Tahun Tsunami 

Sebab, setelah melaksanakan upacara itu mereka percaya bahwa kehidupan mereka akan bahagia, sukses, dan jauh dari berbagai rintangan hidup.

Bila sebelum itu ada rasa waswas dan pesimis.

Namun, setelah upacara tersebut, rasa optimis dan lega pun timbul serempak memenuhi jiwa.

Rasa kemenangan ini akan lebih berbunga-bunga lagi jika yang merasakannya adalah anak-anak.

Betapa tidak. Sebab, seluruh upacara manoe Safa itu, sejak dari awal sampai ke ujungnya, sangat sarat dengan ajaran Islam.

Jauh beberapa hari sebelum hari ‘H’, anak-anak sudah diajarkan membaca ‘niet manoe safa’ (niat mandi Safar), yang intinya memohon kepada Allah Swt agar dijauhkan dari segala bala serta terhindar dari fitnah Dajjal.

Tersiar pula berita sebelum hari ‘H’ bahwa ulama-ulama karismatik, telah pula pergi ke laut dan hulu sungai (pucok krueng) untuk menanam di dasar sungai berbagai ‘surat doa’, sehingga dipercaya manoe Rabu habeh akan lebih besar manfaatnya.

Upacara nasional Pada era Kesultanan Aceh , hari ‘H’ itu adalah hari libur nasional karena dilaksanakan secara kenegaraan.

Perihal itu tersebut dengan jelas dalam kitab Mabaiyinas Salathin (Perintah Segala Raja-Raja), warisan Sultan Iskandar Muda, yang di tahun 2002 kitab itu telah saya salin ke huruf Latin dari huruf Arab Melayu/Jawoe.

Tahun 2017 Dosen Fakultas Hukum USK, M Adli Abdullah menulis disertasi mengenai kitab ini di Univerti Sains Penang, Malaysia.

Tahun 2019 Penerbit Bandar Publishing, Banda Aceh, mencetak disertasi ini dengan judul “Mabaiin As Salatin”.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved