Breaking News:

Jurnalisme Warga

Mandi Safar, Upacara Nasional Masa Kesultanan Aceh

Tradisi mandi Safar pada hari Rabu terakhir (uroe Rabu habeh) di bulan Safar (buleuen Safa), nyaris sama sekali tak lagi dipraktikkan oleh masyarakat

Editor: bakri
Mandi Safar, Upacara Nasional Masa Kesultanan Aceh
IST
T.A. SAKTI,  Pensiunan dosen Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Gampong Bucue, Kecamatan Sakti, Pidie

OLEH T.A. SAKTI,  Pensiunan dosen Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Gampong Bucue, Kecamatan Sakti, Pidie

DEWASA ini, tradisi mandi Safar pada hari Rabu terakhir (uroe Rabu habeh) di bulan Safar (buleuen Safa), nyaris sama sekali tak lagi dipraktikkan oleh masyarakat Aceh.

Semua narasumber yang saya hubungi lewat telepon seluler berpendapat sama.

Terkecuali di kampung paling udik (lam klek-klok) di pedalaman Aceh, sebut mereka.

Banyak teman yang saya telepon, terutama mereka yang tinggal dekat tepi laut dan di pegunungan.

Namun, karena terbatasnya kolom, maka saya sertakan beberapa orang saja.

Saya sendiri di tahun 1970-an masih menyaksikan orang pergi beramai-ramai berjalan kaki menuju Krueng Baro (sungai baru) di Kecamatan Sakti, Pidie.

Berkat kemajuan zaman, bus sewaan semakin banyak.

Tahun 1980-an warga kampung Bucue (gampong saya) berangkat untuk mandi Safar ke laut di Pasi Rawa, Sigli.

Drs Mhmd Kalam Daud MAg (Pak Kalam), Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry menceritakan tradisi mandi Safar di Paleue, Kecamatan Simpang Lhee, Pidie.

Baca juga: Cucu Sultan Aceh Minta Pemerintah Singapura Hormati Ulama Melayu yang Berkunjung ke Singapura

Baca juga: Cucu Sultan Aceh Ultimatum Wali Nanggroe & MAA : Jangan Sembarangan Merusak Adat Istiadat Aceh!

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved