Kupi Beungoh
Aceh dan Kepemimpinan Militer (XII) Benarkah Iskandar Muda Raja Liberal ?
Kesimpulan Nuruddin sangat sederhana dan ringkas. Ia menganggap dan bahkan memberikan fatwa aliran Wujudiyah sebagai aliran sesat dan mesti diberantas
Ketika Lombard menulis tentang Aceh, dengan tegas ia menceritakan Aceh sebagai sebuah titik penting “lintas berbagai budaya besar”- terutama India, Arab, bahkan Cina, Persia, dan Eropah.
Lintasan multi kultur itu terjadi dengan sangat hebat ketika lintas perdagangan mencapai puncaknya pada masa Iskandar Muda.
Tanpa ada konektivitas, tak akan pernah ada kata Sultan dan nama raja yang berujung dengan Syah.
Sekalipun sultan adalah bahasa Arab, istilah ini terkenal dan mula digunakan pada masa imperium Ottoman di Turki.
Gelar sultan pertama kali digunakan di Nusantara adalah di Aceh- Sultan Alaidin Riayat Syah pada pertengahan abad ke-15, baru kemudian digunakan di kerajaan Demak pada pertengahan abad ke 16.
Demikian juga dengan nama Sultan yang berujung dengan Syah, yang lebih banyak meniru gelar penguasa Persia yang terminologia masuk ke Aceh melalui India.
Baik gelar Sultan, maupun gelar Syah mempunyai implikasi yang sangat besar terhadap persepsi dan kerangka kerja kerajaan.
Kita bisa membayangkan pengaruh-pengaruh lainnya yang merasuk ke dalam segala aspek kehidupan.
Mulai dari cara memerintah dan pengaturan pemerintahan, cara berpikir, berbagai kata asing yang diAcehkan, dan bahkan penetrasi sastra dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih dari itu pengaruh aliran dan fiqih juga tak kurang kompleksitasnya, termasuk kontroversi pandangan Fansury dan As Sumatrani dengan Nuruddin Ar Raniry.
Apa yang menarik tentang lintas budaya yang dialami oleh Aceh, terutama pada masa Iskandar Muda, adalah kemampuan Aceh mengkombinasikan dua hal yang berlawanan sekaligus.
Dua hal itu adalah fleksibilitas-daya saing dan rigiditas- daya tahan dalam menghadapi gelombang kultural yang datang silih berdatangan akibat konektivitas.
Baca juga: Aceh dan Kepemimpinan Militer (VIII) - Al Mukammil: Soft Power dan Dansa Diplomasi
Sekalipun penggunaan bahasa Arab merupakan sesuatu yang sangat jamak dikalangan para ulama dan penyebar agama islam nusantara, Aceh tetap saja bersikukuh dengan menggunakan bahasa “melayu jawi” yang diperkenalkan oleh Hamzah Fansuri.
Adalah Aceh yang mesponsori penggunaan bahasa Melayu dari bahasa tutur menjadi bahasa tulis, yang kemudian menjadi warisan terbesar Aceh kepada Indonesia, Malaysia, Singapore, dan Brunei hari ini.
Salah satu kehebatan bahasa Melayu Jawi, adalah ketika Iskandar Muda mengirim surat berkertas mewah dengan tulisan emas- di Inggris disebut dengan golden letter, kepada raja Inggris, James.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/prof-ahmad-humam-hamid-3.jpg)