Kupi Beungoh
Aceh dan Kepemimpinan Militer (XII) Benarkah Iskandar Muda Raja Liberal ?
Kesimpulan Nuruddin sangat sederhana dan ringkas. Ia menganggap dan bahkan memberikan fatwa aliran Wujudiyah sebagai aliran sesat dan mesti diberantas
Lembaran surat itu menggambarkan kemajuan ‘budaya material”- fisik surat dan keindahan warna, berikut dengan bentuk dan format.
Surat itu juga mengambarkan kehebatan budaya ‘non material” yang ditunjukkan dengan redaksi dan narasi diplomatik yang pada masa itu belum pernah diterima oleh kerajaan Inggris dari berbagai kerajaan Nusantara-Melayu sekalipun.
Diamping resistensi terhadap penggunaan bahasa selain Melayu Jawi- bahkan terhadap bahasa Arab sekalipun, Aceh juga sangat keras dalam menyaring elemen-elemen agama islam ketika masuk ke Aceh.
Sekalipun Aceh berhubungan erat dan mungkin dipengaruhi oleh kerajaan Mogul -islam India, dan bahkan Timur Tengah, Aceh tidak mau menerima bentuk -mesjid seperti yang dibangun di sana, yang jelas berpengaruh dengan gaya Persia.
Aceh tetap kokoh mempertahankan mesjid yang bentuknya lebih menyesuaikan dengan bahan lokal, dan bentuk yang sesuai dengan iklim tropis.
Satu-satunya obsesinya yang tak pernah sampai adalah mengusir Portugis dari Melaka.
Ia menyerang Melaka paling kurang 2 kali semasa hidupnya, namun kedua penyerangan itu gagal.
Ia bahkan meninggal dalam waktu yang tak terlalu lama setelah kegagalan menyerang Portugis di Melaka.
Baca juga: Aceh dan Kepemimpinan Militer (X) - Iskandar Muda: “Imitatio Alexandri”
Sekalipun sebab kematian Iskandar Muda, dalam beberapa catatan disebutkan sebagai misterius. Namun masa pemerintahannya selama 31 tahun dikenal sebagai puncak kejayaan Aceh.
Tidak ada kerajaan Islam sekuat Aceh pada masa itu di Timur, kecuali kerajaan Aceh.
Disamping kemampuan Iskandar Muda “bersahabat” dengan berbagai bangsa, sambil melakukan ekspansi militer untuk perluasan kerajaan, ia juga sangat mahir dan bahkan sangat keras dalam menjaga stabilitas dan keamanan dalam negeri.
Kemampuannya menjaga stabilitas domestik terlihat dari kemampuannya meredam kelicikan para elit kerajaan- sekelompok bangsawan yang mendapat gelar Orang Kaya, yang dalam sejarahnya selalu menjadi biang kerok hancur dan lemahnya para sultan sebelumnya.
Ia melakukan persis seperti yang dilakukan oleh kakeknya Al-Mukammil, yang tidak hanya membatasi gerak para orang kaya, dan bahkan membunuh mereka yang dianggap berkhianat atau berpotensi untuk menjadi pengkhianat.
Beaulieu, Laksamana Perancis yang pernah tinggal Aceh bahkan menulis Iskandar mempuyai pengawal pribadi perempuan yang cukup banyak.
Ia juga menerapkan aturan “jaga malam” istana terhadap para orang kaya yang dilakukan secara berkelompok dan bergilir, sehingga peluang konspirasi yang timbul dapat ditekan.(*)
*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/prof-ahmad-humam-hamid-3.jpg)