Opini
Rokok Elektrik: Aman atau Berbahaya?
Secara global, sekitar 37 Persen siswa sekolah menengah atas melakukan vaping pada tahun 2018, naik dari 28 Persen tahun sebelumnya
OLEH dr Muhammad Ridwan MAppSc SpJP(K)-FIHA FAsCC, Dosen FK USK, Ketua Yayasan Jantung Indonesia Cabang Aceh
ROKOK elektrik atau disebut juga dengan vape semakin hari semakin digandrungi, terlebih di kalangan usia dewasa muda.
Sebuah studi melaporkan bahwa secara global, sekitar 37 Persen siswa sekolah menengah atas melakukan vaping pada tahun 2018, naik dari 28 Persen tahun sebelumnya.
Di Amerika, sekitar 2,1 juta siswa sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas menggunakan rokok elektrik pada tahun 2017; dan jumlah itu melonjak menjadi 3,6 juta pada tahun 2018.
Menurut surveI dari CDC pada tahun 2020, lebih dari 9 juta orang dewasa berusia 18 tahun ke atas menggunakan rokok elektrik.
Global Adult Tobacco Survey (GATS) melaporkan prevalensi pengguna rokok elektrik di Indonesia meningkat signifikan dalam kurun satu dekade.
Ini berdasarkan informasi perbandingan Indonesia 2011 dan 2021.
GATS melaporkan prevalensi penggunaan rokok elektrik meningkat signifikan dari 0,3 persen pada 2011, menjadi 3,0 persen pada 2021.
Angka tersebut setara 6,2 juta orang dewasa yang terdiri atas 5,8 persen konsumen laki-laki dan 0,3 persen perempuan.
Rokok tradisional diketahui dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan, antara lain penyakit jantung iskemik, kanker paru-paru, penyakit paru obstruktif kronis, dan penyakit pembuluh darah perifer.
Merokok tembakau mempercepat aterosklerosis dan menyebabkan infark miokard (MI), stroke, dan penyakit arteri perifer.
Karbon monoksida dalam asap tembakau mengurangi ketersediaan oksigen.
Baca juga: Bea Cukai Langsa Sita 2 Juta Batang Rokok Ilegal Merk Luffman Senilai Rp 4 Miliar
Baca juga: Menuju Aceh Bebas Asap Rokok
Nikotin dalam asap tembakau diketahui merangsang sistem saraf simpatik, yang menghasilkan peningkatan denyut jantung, tekanan darah, kontraktilitas jantung, dan penyempitan pembuluh darah.
Nikotin menurunkan kolesterol HDL, meningkatkan kadar trigliserida, dan menginduksi disfungsi endotel.
Asap tembakau menghasilkan bahan kimia oksidan, partikulat, dan produk pembakaran yang menyebabkan peradangan, disfungsi endotel, dan mengaktifkan mekanisme pembekuan darah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-Muhammad-Ridwan-MAppSc-SpJPK-FIHA-FAsCC.jpg)