Luar Negeri
Pria Tua Ini Lari Maraton Sejauh 42 KM Selama 3 Jam Sambil Menghisap Rokok, Finish di Posisi 574
Aksinya mengikuti lomba lari maraton sejauh 42 kilometer mendapat perhatian setelah finis dalam waktu 3 jam 28 menit 45 detik sambil merokok.
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Amirullah
Namun nikotin pada rokok dapat mengurangi kemampuan tersebut, sehingga otot kekurangan suplai oksigen dengan cepat untuk berfungsi dengan baik.
Jadi manfaat olahraga dalam meningkatkan kekuatan otot akan tidak maksimal jika masih merokok.
2. Risiko penyakit jantung
Kebiasaan merokok dapat meningkatkan detak jantung meski tidak melakukan aktivitas apapun.
Ketika tubuh sedang aktif seperti saat berolahraga maka jantung akan bekerja lebih keras.
Peningkatan detak jantung inilah yang berbahaya untuk kesehatan.
Detak jantung yang lebih tinggi dari seharusnya bisa berakibat fatal dan meningkatkan risiko kematian.
3. Kerusakan paru-paru
Kandungan tar pada asap rokok dapat melapisi paru-paru sehingga membuat kantung udara kurang elastis.
Kondisi ini bisa membatasi kinerja gerakan fisik termasuk ketika berolahraga.
Dampaknya ini dapat mengurangi kemampuan tubuh untuk menggunakan oksigen secara efektif.
Karenanya, perokok akan lebih cepat lelah saat olahraga dibandingkan non-perokok. (Serambinews.com/Agus Ramadhan)
Baca juga: Piala Dunia 2022 - Qatar Larang Alkohol, LGBT hingga Seks Bebas, Negara Barat Khawatir
Baca juga: Perang Dingin Baru Dengan China tidak akan ada lagi, Janji Biden Kepada Jinping di Bali